Entri Populer

Selasa, 29 Maret 2011

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBAHASA LISAN DI KELAS TINGGI



TUGAS KELOMPOK

PENINGKATAN KEMAMPUAN
BERBAHASA LISAN


Dosen Pembimbing : Dra. Sulistiasih, M.Pd
Mata Kuliah : Pend. Bahasa Indonesia di Kelas
Tinggi

Oleh

1. Heru Yuono 0713053032
2. Nia Fatmawati 0713053044
3. Zahrial Yudha Prawira 0713053061










S I PGSD UPP METRO
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
T.A 2009 / 2010




PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Di dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa yang menjadi sasaran pokok, yaitu menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keterampilan menyimak dan berbicara dikategorikan dalam keterampilan berbahasa lisan, sedangkan keterampilan menulis dan membaca dik
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan berbahasa lisan yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan tersebut masih perlu untuk terus dikembangkan di kelas-kelas tinggi. Peningkatan kemampuan berbahasa lisan dimaksudkan agar anak-anak sekolah dasar mampu memahami pembicaraan orang lain baik langsung maupun lewat media, misalnya radio, televisi, dan pita rekaman. Tujuan yang lain adalah agar anak-anak mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara lisan. Dengan demikian kemampuan mereka dalam berkomunikasi secara lisan diharapkan dapat meningkat.
Dalam makalah ini kita akan membahas mengenai keterampilan berbahasa lisan, yaitu bagaimana meningkatkan keterampilan menyimak dan berbicara. Pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan strategi pembelajaran berbahasa lisan merupakan prasyarat bagi mahasiswa calon guru agar mampu melaksanakan pengajaran bahasa di kelas sehingga pada akhirnya keterampilan berbahasa lisan siswa meningkat dengan baik.






B. Tujuan

Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan yang memadai tentang bagaimana meningkatkan keterampilan berbahasa lisan. Tujuan dan sasaran mempelajari bab ini adalah agar mahasiswa mampu :
a. Memahami Hakikat Menyimak dan Berbicara (Bahasa Lisan)
b. Mengetahui Proses Menyimak dan Berbicara (Bahasa Lisan)
c. Mengetahui Bahan Pembelajaran Menyimak dan Berbicara Di Kelas Tingi
d. Memahami Strategi Meningkatkan dan Mengembangkan Kemampuan Menyimak dan Berbicara di Kelas Tinggi.
e. Mengetahui dan Memahami Hubungan Menyimak dan Berbicara
f. Mengetahui dan Memahami Strategi Pembelajaran Berbahasa Lisan dan Penerapannya Melalui Kegiatan Bercerita dan Demonstrasi Kreatif.

BAB II
PEMBAHASAN

E. Menyimak
1) Hakikat Menyimak
Hakikat menyimak dapat dilihat dari berbagai segi. Menyimak dapat dipandang sebagai suatu sarana, sebagai suatu keterampilan, sebagai seni, sebagai suatu proses, sebagai suatu respon, atau sebagai suatu pengalaman kreatif. Menyimak dikatakan sebagai suatu sarana sebab adanya kegiatan yang dilakukan seseorang pada waktu menyimak yang harus melalui tahap mendengar bunyi-bunyi yang telah dikenalnya. Secara bersamaan ia memaknai bunyi-bunyi tersebut. Dengan cara seperti ini ia mampu menginterpretasikan dan memahami makna rentetan bunyi-bunyi tersebut.
Tarigan Djago (1991 : 4) menyimk adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya. Sedangkan menurut Harimurti K. 1981 dalam (Hariyadi 1996 : 19) “Menyimak adalah mendengarkan, memperhatikan, mengikuti, menurut, mengindahkan, dan memperdulikan.”
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, kita dapat menyusun batasan yang lebih lengkap yaitu: Menyimak merupakan suatu proses kegiatan mendengarkan bunyi-bunyi bahasa dan non-bahasa dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, dan interpretasi untuk memperoleh informasi, sekaligus menangkap isi atau pesan, serta mampu memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh manusia dan atau sumber lainnya.

2) Proses Menyimak
Pemahaman menyimak menjadi lebih mudah apabila penyimak mengetahui konteks wacana yang disimaknya. Hal tersebut memungkinkan peserta didik menggunakan pengetahuan yang telah mereka miliki untuk menafsirkan dan memahami materi yang mereka simak. Pengetahuan yang ada pada diri penyimak sangat berperan dalam proses menyimak. Penyimak yang berhasil adalah mereka yang memanfaatkan baik pengetahuan yang ditangkap dari wacana yang disimak maupun pengetahuan yang telah mereka miliki, yang berhubungan dengan dengan materi yang disimak (Numan, 1991: 18 dalam Rofi’uddin,1998: 5).

Dalam tahap mendengar, penyimak berusaha menangkap pesan pembicara yang sudah diterjemahkan dalam bentuk bunyi bahasa. Untuk menangkap bunyi bahasa itu diperlukan telinga yang peka dan perhatian terpusat. Bunyi yang sudah ditangkap perlu diidentifikasi, dikenali dan dikelompokkan menjadi suku kata, kata, kelompok kata, kalimat, paragraf, atau wacana. Pengidentifikasian bunyi bahasa akan semakin sempurna apabila penyimak memiliki kemampuan linguistik. Kemudian, bunyi bahasa itu perlu diinterprestasikan maknannya. Perlu diupayakan agar interpretasi makna ini sesuai atau mendekati makna yang dimaksudkan oleh pembicara. Setelah proses penginterpretasian makna selesai, maka penyimak dituntut untuk memahami atau menghayati makna itu. Hal ini sangat perlu buat langkah berikutnya, yakni penilaian. Makna pesan yang sudah dipahami kemudian ditelaah, dikaji, dipertimbangkan, dikaitkan dengan pengalaman, dan pengetahuan penyimak. Kualitas hasil penilaian sangat tergantung kepada kualitas pengetahuan dan pengetahuan penyimak. Tahap akhir dari proses menyimak ialah menanggapi makna pesan yang telah selesai dinilai. Tanggapan atau reaksi penyimak terhadap pesan yang diterimanya dapat berujud berbagai bentuk seperti mengagguk-angguk tanda setuju, mencibir atau mengerjakan sesuatu.
Faktor Penting dalam menyimak adalah keterlibatan penyimak dalam berinteraksi dengan pembicara. Menurut Anderson dan Lyneh (dalam Rofi’uddin 1998 : 6) kesulitan dalam menyimak dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :
1. Susunan informasi (Teks yang berisi informasi yang disusun secara kronologi lebih mudah dipahami daripada yag tidak berkronologi).
2.Latar belakang pengetahuan penyimak mengenai topic yang disimak.
3.Kelengkapan dan kejelasan (Disajikan eksplisit informasi yang disimak).
4.Pembicara tidak banyak menggunakan kata ganti dan menggunakan kata benda secara lengkap maka teks itu lebih mudah dipahami.
5.Yang dideskripsikan dalam teks yang disimak mengandung hubungan strategis atau hubungan dinamis (Yang menunjukan hubungan statis misalnya bentuk-bentuk geometric lebih sulit dipahami, daripada yang mengandung hubungan hubungan dinamis
Kegiatan menyimak perlu disesuaikan dengan kemampuan anak. Bagi anak-anak yang tergolong rendah kemampuannya dalam menyimak, setelah menyimak teks yang sama dengan yang disimak oleh anak-anak yang lain, anak-anak tersebut dapat diberi tugas membuat ringkasan informasi yang mereka simak. Anak-anak yang kemampuan menyimaknya rendah diberi tugas menyebutkan jumlah pembicaraan atau jumlah kata-kata kunci.
Alternatif yang lain, peserta didik diberikan kesempatan untuk menyimak berulang-ulang wacana yang dijadikan materi pembelajaran menyimak. Mereka diberi daftar kata-kata kunci dan diminta menyebutkan berapa kali mereka mendengar kata-kata tersebut. Kemudian diberi tugas yang lebih sulit misalnya diberi sejumlah frasa dan diminta yang terakhir, mereka dapat diminta untuk menunjukkan jumlah yang mereka dengar.

3)Bahan Pembelajaran Menyimak
Tujuan utama pembelajaran menyimak adalah melatih siswa memahami bahasa lisan. Hal ini perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Secara umum, bahan pembelajaran menyimak dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca, menulis, kosakata, karya sastra, bahan yang pendidik susun sendiri atau di ambil dari media cetak. Teknik penyajiannya dapat dibacakan langsung oleh pendidik atau melalui alat perekam suara.
Setelah menyampaikan bahan pembelajaran, pendidik secara langsung dapat mengadakan tanya jawab tentang isi materi yang sudah disampaikannya atau menugasi peserta didik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan lebih dulu. Pertanyaan yang baik harus disusun secara sistematis. Menurut Baradja (PGSD 4405/Modul 6 : 6.25) sistematisasi pertanyaan-pertanyaan untuk materi pembelajaran menyimak dapat dilakukan dengan menggunakan tabel berikut.



MENGINGAT FAKTA

Mengingat nama orang, nama tempat, urutan kejadian dan hal-hal lain yang secara eksplisit disebutkan dalam teks lisan MEMAHAMI KOSAKATA BARU

Memahami arti kata, ungkapan, dan sebagainya dalam hubungan kalimat MENARIK KESIMPULAN

Mengidentifikasi isi persoalan, meramalkan kejadian selanjutnya, membuat interpretasi efektif, dan sebagainya
Ya – tidak/alternatif 1 2 3
Dengan kata tanya 4 5 6

Pada tabel di atas tampak ada dua jenis pertanyaan dan 3 jenis perilaku siswa yang kita pancing. Secara keseluruhan, ada 6 pertanyaan, yaitu pertanyaan 1 – 3 merupakan jenis pertanyaan ya – tidak/alternatif dan pertanyaan 4 – 6 jenis pertanyaan yang menggunakan kata tanya, misalnya apa, mengapa, bagaimana, dan lain sebagainya. Pertanyaan 1 – 3 termasuk pertanyaan yang relatif mudah (diberikan di kelas rendah), sedangkan macam pertanyaan 4 – 6, termasuk golongan pertanyaan yang sukar (diberikan di kelas tinggi). Gradasi kesukaran sudah diurutkan, makin besar nomor pertanyaan makin sukar atau makin kecil nomor pertanyaan makin mudah.

4)Strategi Meningkatkan dan Mengembangkan Kemampuan Menyimak
Faktor Penting dalam menyimak adalah keterlibatan penyimak dalam berinteraksi dengan pembicara. Agar proses pembelajaran menyimak memperoleh hasil yang baik. Strategi pembelajaran guru harus memenuhi kriteria berikut:
a.Relevan dengan tujuan pembelajaran
b.Menantang dan merangsang siswa untuk belajar
c.Mengembangkan kreativitas siswa secara individual maupun secara kelompok
d.Memudahkan siswa memahami pelajaran
e.Mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan yang telah ditetapkan
f.Mudah diterapkan dan tidak menuntut peralatan yang rumit
g.Menciptakan suasana belajar mengajar yang yang menyenangkan
Berbagai strategi dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menyimak. Guru dapat memberikan cerita yang tidak terlalu panjang dikelas. Namun, sebelum membaca, guru harus mendiskusikan etiket atau sopan santun dalam menyimak dan perbedaan antara kritik yang kontruktif atau negatif. Diskusi tersebut hendaknya menekankan harapan agar murid-murid saling menghormati dan membina kesetiakawanan.
Guru hendaknya mengadakan diskusi mengenai cerita atau artikel tersebut yang patut dipuji atau perlu diperbaiki. Guru sebaiknya mendaftar segi-segi positif dan negative tersebut di papan tulis atau dengan menggunakan OHP, sehingga setiap anak dapat melihat dan mendengar hal-hal penting yang sedang didiskusikan. Pada saat inilah guru dapat menekankan kepada murid-murid untuk mengajukan pertanyaan dengan cara yang sopan dan pada saat inilah guru memberikan dorongan kepada anak untuk memperbaiki pertanyaannya agar menjadi jelas dan menggunakan bahasa yang baku. Apabila tidak ada anak yang memberikan komentar terhadap cerita atau artikel yang telah dibacakan, guru mungkin dapat menyarankan agar mereka berperan seolah-olah menjadi pengarang cerita atau artikel tersebut. Komentar apa yang mereka inginkan dari pembaca seandainya mereka menjadi pengarang cerita atau artikel yang telah dibacakan oleh guru Yeager, dalam (Rofi’uddin 1998 : ...).

Mengembangkan Pembelajaran Menyimak di SD
Beberapa teknik pembelajaran yang dapat dilaksanakan oleh guru di SD sebagai berikut:
1. Simak – Ulang Ucap.
Teknik simak-ulang ucap digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan pengucapan atau lafal yang tepat dan jelas. Guru dapat mengucapkan atau memutar rekaman bunyi bahasa tertentu seperti fonem, kata, kalimat, idiom, semboyan, kata-kata mutiara, dengan jelas dan intonasi yang tepat. Siswa menirukan. Teknik ini dapat dilakukan secara individual, kelompok, dan klasikal.
2.Simak – Tulis (Dikte)
Guru mengucapkan bunyi bahasa tertentu seperti fonem, kata, kalimat, idiom, semboyan, kata-kata mutiara, dengan jelas dan intonasi yang tepat. Siswa harus menyimak apa yang diucapkan guru, kemudian siswa menuliskannya.
3. Simak – Kerjaan
Guru mengucapkan bunyi bahasa tertentu seperti fonem, kata, kalimat, idiom, semboyan, kata-kata mutiara, dengan jelas dan intonasi yang tepat. Siswa harus menyimak apa yang diucapkan guru, kemudian siswa mengerjakan apa yang diperintahkan atau dikatakan dalam kegiatan menyimak.
4. Simak – Terka
Guru menyusun deskripsi suatu benda atau mainan siswa yang paling disukai atau gambar foto tanpa menyebutkan mana bendanya. Deskripsi diperdengarkan kepada siswa. Siswa menyimak teks deskripsi dan harus menerkanya.
5. Memperluas kalimat
Guru menyebutkan sebuah kalimat. Kemudian guru mengucapkan kata atau kelompok kata lain, kemudian siswa melengkapi kata-kata yang telah diucapkan guru dengan kata lain ayang sesuai yang hasilnya kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang utuh dan lebih luas.
6. Menyelesaikan Cerita
Guru memperdengarkan suatu cerita sampai selesai. Setelah siswa selesai menyimak, guru menyuruh seseorang untuk menceritakan kembali dengan kata-katanya sendiri. Sebelum selesai bercerita, guru menghentikan cerita siswa tadi dan menggantikan dengan siswa lain yang bertugas menyelesaikan cerita kawannya, begitu seterusnya sehingga cerita itu berakhir seperti yang disimaknya.
7. Membuat Rangkuman
Guru menyiapkan bahan simakan yang cukup panjang. Materi itu disampaikan secara lisan kepada siswa dan siswa menyimak. Setelah selesai menyimak siswa disuruh membuat rangkuman.
8. Permainan Untuk meningkatkan Ketrampilan Menyimak (Bisik Berantai).
Suatu pesan dapat dilakukan secara berantai. Mulai dari guru membisikkan pesan kepada siswa pertama dan dilanjutkan kepada siswa berikutnya sampai siswa terakhir. Siswa terakhir harus mengucapkannya dengan nyaring. Tugas guru adalah menilai apakah yang dibisikkan tadi sudah sesuai atau belum. Jika belum sesuai, bisikan dapat diulangi, jika sudah sesuai bisikan dapat diganti dengan topik yang lain.
9. Mendengarkan Cerita Tujuan
Dalam kegiatan ini siswa dapat memaknai dengan cermat, cepat, dan tepat tentang cerita yang didengarnya. Siswa mendengarkan cerita yang diputar atau dilisankan. Kegiatan teknik pembelajaran ini dapat dilaksanakan secara persorangan maupun kelompok.
Alat yang digunakan : Kaset cerita dan tape recorder.
Cara pelaksanaan : (1) guru memberikan pengantar singkat tentang pelaksanaan teknik pembelajaran hari itu, (2) putarkanlah kaset cerita yang cocok dengan siswa, (3) siswa mendengarkan cerita yang diputar tersebut, (4) siswa secara berkelompok mengidentifikasikan cerita berdasarkan tempat, pelaku (siapa dengan siapa), waktu, tentang apa, mengapa, bagaimana, dan bermakna apa, (5) siswa mendiskusikan hasil identifikasi ke dalam kelompok, (6) siswa melaporkan hasil diskusi tersebut di depan kelas dan kelompok lain memberikan penilaian, (7) siswa menyimpulkan dan merefleksi pembelajaran yang mereka lakukan pada hari itu.
10. Mendengarkan Berantai Tujuan
Dalam kegiatan ini siswa dapat memahami informasi yang dibisikkan oleh temannya dengan cermat, cepat, dan tepat. Siswa mendengarkan informasi yang disampaikan teman kemudian menyampaikan informasi yang didengar ke teman sebelahnya secara berantai dalam kelompok.
Alat yang digunakan: Catatan informasi singkat, panjang, dan tidak beraturan.
Cara pelaksanaan: (1) guru memberikan pengantar singkat tentang pelaksanaan teknik pembelajaran hari itu, (2) siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan anggota per kelompok sama jumlahnya, (3) siswa dalam kelompok diatur dengan berjajar ke samping atau ke belakang, (4) setelah posisi siswa sesuai dengan yang diharapkan, guru memanggil siswa yang paling depan atau paling kanan/kiri untuk membaca catatan informasi yang ditunjukkan guru secara rahasia, (5) siswa yang menerima informasi tersebut secara cepat membisikkan informasi ke teman belakangnya atau sampingnya (berdasarkan posisi kelompok), (6) secara berantai siswa membisikkan ke teman berikutnya secara bergantian, (7) siswa yang paling belakang mengucapkan dengan keras informasi yang diterimanya dari teman depannya, (8) siswa depan mencocokkan dengan informasi yang asli (9) berikutnya, guru dapat mengulang dengan informasi yang berjenis-jenis (beberapa informasi) ke dalam satu kelompok secara bertahap, (10) siswa menyimpulkan tentang kegiatan yang baru mereka laksanakan dan merefleksi pembelajaran yang mereka lakukan pada hari itu.

5) Guru Sebagai Penyimak
Perlu kita yakini kebenaran pernyataan: siapa yang tidak mau menyimak dengan baik tidak mungkin dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Oleh karena itu guru seharusnya menyimak pertanyaan murid dengan baik. Apabila guru merasa sudah tahu apa yang ditanyakan, kemudian guru memberikan jawaban yang tidak tetap, secara tidak disadari guru-guru tersebut telah membentuk kebiasaan menyimak yang tidak baik bagi murid-murid.
Dalam kelas yang efektif, guru memberikan penekanan pada keterampilan menyimak seperti halnya pada keterampilan membaca dan menulis. Menyimak merupakan sarana yang utama untuk belajar, oleh karena itu kebiasaan menyimak perlu dikembangkan. Cara yang terbaik untuk mengembangkan murid-murid sebagai penyimak yang efektif. Tunggulah sampai suatu pertanyaan dikemukakan secara lengkap sebelum menjawab pertanyaan murid. Demikian juga murid-murid dibiasakan melakukan hal yang serupa. Apabila perlu dikemukakan kembali pertanyaan yang harus anda jawab atau yang harus dijawab oleh orang lain. Berikan dorongan untuk saling bertukar pendapat. Ingatkan murid-murid bahwa menjadi penyimak yang baik sama pentingnya dengan menjadi pembicara yang efektif Yeager, dalam (Rofi’uddin 1998 : 9-10).
Keberhasilan suatu pembelajaran menyimak bergantung pada adanya dua kondisi. Pertama, guru harus memberikan teladan sebagai penyimak yang kritis dan pembicaraan yang efektif, dan menggunakan strategi yang efektif. Kedua, setiap murid yang berpartisipasi dalam diskusi harus memiliki informasi tertentu yang akan disampaikan kepada teman-temannya. Saling memberikan dan menerima informasi, pendapat, atau gagasan merupakan faktor utama untuk mencapai keberhasilan dalam diskusi

6) Partisipasi Kelompok
Dalam kelas yang berdasarkan pendekatan pembelajaran bahasa secara holistik, peserta didik lebih banyak bekerja dalam kelompok. Kelompok dapat diarahkan untuk mencapaia tujuan pembelajaran khusus secara langsung, dan dapat menolong anaka-anaka meningkatkan keterampilan tertentu. Kerja kelompok dapat menolong murid-murid mengembangkan sikap sosial yang positif, memberikan penguatan keterampilan berbahasa yang spesifik dan membantu guru menyelenggarakan pembelajaran sebaik mungkin.
Keuntungan dari kelompok tersebut terletak pada bantuan dari teman dan terjadiny kegiatan belajar. Keberhasilan kelompok biasanya merupakan pencerminan perencanaan dan upaya-upaya persiapan guru.
Keberhasilan suatu kelompok sangat tergantung pada anggota-anggotanya. Sebaiknya guru mulai dengan memberikan tugas yang jelas berupa keterampilan tertentu yang perlu ditingkatkan dalam suatu kelompok, kemudian baru memiliki anggota kelompok.

F. Berbicara
1) Hakikat Berbicara
Berbicara merupakan kegiatan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan Tarigan dalam (Haryadi 1996 :54). Berbicara sering di anggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial karena berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, dan linguistik secara luas. Faktor-faktor tersebut merupakan indikator keberhasilan berbicara . Jadi tingkat kemampuan berbicara seseorang tidak hanya ditentukan dengan mengukur penguasaan faktor linguistik saja atau faktor psikologis saja, tetapi dengan mengukur semua faktor tersebut secara menyeluruh.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didngar dan yang kelihatan yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan.

2) Proses Berbicara
Kegiatan berbicara dilakukan untuk mengadakan hubungan sosial dan untuk melaksanakan suatu layanan. Dalam proses belajara berbahasa di sekolah, anak-anak mengembangkan kemampuan secara vertikal. Mereka sudah dapat mengungkapkan pesan secara lengkap meskipun belum sempurna. Dengan kata lain, perkembangan tersebut tidak secara horizontal mulai dari fonem, kata, frase, kalimat, dan wacana seperti halnya jenis tataran linguistik.
Ellis (dalam Roffi’uddin, 1998: 12) mengemukakan adanya tiga cara untuk mengembangkan secara vertikal dalam meningkatkan kemampuan berbicara :
a. Menirukan pembicaraan orang lain.
b. Mengembangkan bentuk-bentuk ujaran yang telah dikuasai.
c. Mendekatkan atau menyejajarkan dua bentuk ujaran, yaitu benyuk ujaran sendiri yang belum benar dan ujaran orang dewasa yang sudah benar.
Berikut ini proses pembelajaran berbicara dengan berbagai jenis kegiatan, yaitu percakapan berbicara estetik, berbicara untuk menyampaikan informasi atau untuk mempengaruhi, dan kegiatan dramatik (Tompkinss dan Hoskisson dalam Rofi’uddin, 1998: 12)
a. Percakapan
Siswa mempelajari strategi dan keterampilan untuk melakukan sosialisasi dan percvakapan dengan teman-temannya sekelas ketika berpartisipasi dalam kelompok kecil. Mereka belajar tentang peran pembicaraan dalam mengembangkan pengetahuan. Berikut ini merupakan langkah-langkah dalam melakukan percakapan.
1) Memulai percakapan
Untuk memulai percakapan, seorang siswa secara sukarela untuk membuka pembicaraan. Guru menyampaikan pertanyaan untuk didiskusikan, kemidian seorang murid mulai percakapan dengan mengulangi pertanyaan tersebut, sedangkan anggota kelompok menanggapinya.
2) Menjaga berlangsungnya percakapan
Siswa secara bergiliran menyampaikan komentar atau mengajukan pertanyaan. Lewat percakapan, siswa menuju pada tercapainya suatu tujuan. Tujuan tersebut dapat berupa penyelesaian suatu tugas, menginterpretasikan buku yang telah mereka baca, atau menanggapi pertanyaan guru.
3) Mengakhiri percakapan
Pada akhir percakapan, siswa seharusnya sudah dapat mencapai suatu persetujuan, sudah menjawab semua pertanyaan atau melaksanakan tugas dengan baik. Murid menghasilkan sesuatu dari suatu percakapan, misalnya berupa kumpulan cataatan hasil percakapan.
b. Berbicara Estetik
1) Memilih cerita
Hal yang paling penting dalam memilih cerita adalah memilih cerita yang menarik. Pertimbangan lainnya : (a) cerita tersebut sederhana, dengan alur cerita yang jelas; (b) memiliki awal, pertengahan, dan akhir yang jelas; (c) tema cerita jelas; (d) jumlah pelaku cerita tidak banyak; (e) cerita mengandung dialog; (f) cerita menggunakan gaya bahasa perulangan; (g) cerita menggunakan bahasa yang mengandung keindahan.
2) Menyiapkan diri untuk bercerita
Siswa hendaknya membaca kembali dua atau tiga kali cerita yang akan diceritakan untuk memahami perwatakan pelaku-pelakunya dan dapat menceritakan secraa urut.
3) Menambahkan barang-barang yang diperlukan
Siswa dapat menggunakan beberapa teknik untuk membuat cferitanya lebih hidup. Siswa dapat menggunakan gambar-gambar yang ditempelkan di papan planel, boneka, dan benda-benda yang menggambarkan pelaku binatang atau barang-barang yang diceritakan agar cerita lebih menarik.
4) Bercerita atau mendongeng
Kegiatan mendongeng dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga penggunaan waktunya dapat efisien.
c. Berbicara untuk Menyampaikan Informasi atau Mempengaruhi
Keempat macam bentuk kegiatan yang masuk jenis kegiatan ini ialah melaporkan secara lisan, melakukan wawancara, dan berdebat. Pengumpulan informasi dilakukan dengan membaca berbagai sumber, antara lain buku, majalah, surat kabar, ensiklopedia, almanak, dan atlas. Dalam menyajikan informasi, siswa sebaiknya tidak membawa catatan.
d. Kegiatan Dramatik
Bermain drama merupakan media bagi siswa untuk menggunakan bahasa verbal dab nonverbal dalam konteks yang bermakna. Kegiatan drama memiliki kekuatan sebagai suatu teknik pembelajaran bahasa karena melibarkan siswa dalam kegiatan berpikir logis dan kreati, memberikan pengalaman belajar secara aktif, dan memadukan empat keterampilan berbahasa.

3) Bahan Pembelajaran Berbicara
Tujuan utama pembelajaran berbicara di SD melatih siswa dapat berbicara dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca atau menulis, kosakata, dan sastra sebagai bahan pembelajaran berbicara. Misalnya menceritakan pengalaman yang mengesankan, menceritakan kembali cerita yang pernah dibaca atau didengar, mengungkapkan pengalaman pribadi, bertanya jawab berdasarkan bacaan, bermain peran, berpidato, dan lain sebagainya. Untuk memantau kemajuan siswa dalam berbicara, guru dapat melakukannya ketika siswa sedang melaksanakan kegiatan diskusi kelompok, tanya jawab, dan sebagainya. Pengamatan guru terhadap aktivitas berbicara para siswanya dapat direkam dengan menggunakan format yang telah dipersiapkan sebelumnya. Faktor-faktor yang diamati adalah lafal kata, intonasi kalimat, kosakata, tata bahasa, kefasihan bicara, dan pemahaman.

4) Strategi Meningkatkan dan Mengembangkan Kemampuan Berbicara
Keterampilan berbicara lebih mudah dikembangkan apabila siswa memperoleh kesempatan untuk mengkomunikasikan sesuatu secara alami kepada orang lain. Selama kegiatan belajar di sekolah, guru menciptakan berbagai lapangan pengalaman yang memungkinkan siswa mengembangkan kemapuan berbicara. Kegiatan-kegiatan untuk melatih keterampilan berbicara itu antara lain sebagai berikut.
a. Menyajikan Informasi
Salah satu bentuk kegiatan untuk melatih penyajian informasi adalah dengan berpidato. Tujuan kegiatan ini untuk menolong anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dalam berbicara dengan orang lain, belajar menyusun, dan menyajikan suatu pembicaraan, dan mempelajari cara yang terbaik untuk berbicara di hadapan sejumlah pendengar. Empat langkah dalam menyiapkan dan menyajikan pidato yang seharusnya dikerjakan oleh anak-anak yang belajar berpidato adalah sebagai berikut (Ross and Roe, dalam Rofi’uddin 1998: 21)
1) Merencanakan pidato
Tentukan tujuan berpidato, untuk menginformasikan, menghibur, atau mendorong suatu tindakan. Pilih topik yang menarik, tidak terlalu sulit, dan dapat diceritan secara ringkas.
2) Menyusun Pidato
Tentukan urutan untuk menyajikan hal-hal yang penting, buatlah awal dan akhir pidato yang mengesankan, dan rencanakan penggunaan media visual apabila meyakinkan.
3) Mempraktikkan
Praktikkan berpidato di depan teman-teman sekelompok atau di depan kelas sebagai latihan.
b. Berpartisipasi dalam Diskusi
Diskusi memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan siswa-siswa yang lain dan guru, mengekspresikan pikiran secara lengkap, mengajukan berbagai pendapat, dan mempertimbangkan perubahan pendapat apabila berhadapan dengan bukti-bukti yang meyakinkan atau tanggapan yang masuk akal yang dikemukakan oleh peserta diskusi. Hasil penelitian membuktikan bahwa diskusi merupakan strategi yang membuat siswa bergairah dalam proses pembelajaran (Alvermann, dkk, dalam Rofi’uddin 1998 : 23)
c. Menghibur (Menyajikan Pertanyaan)
Siswa dapat menyajikan pertunjukan untuk teman atau teman sekelas, teman-teman dari kelas yang lain, orang tua dan anggota masyarakat sekitar gedung sekolah.
d. Sandiwara Boneka
Di dalam kelas anak-anak dapat menggunakan boneka dengan dua cara. Mereka menemukan (mencari) cerita yang sesuai dengan boneka-boneka yang sudah tersedia, atau mereka dapat membuat boneka kemudian mengarang cerita yang sesuai.
e. Bercerita atau Membaca Puisi secara Kor
Cerita atau puisi yang digunakan harus yang menarik bagi anak-anak, yang mudah dipahmi secara lisan, dan yang mudah dihafalkan. Guru hendaknya tidak terlalu mengharapkan penampilan yang benar-benar bagus, tetapi ia harus menolong murid-murid belajar menafsirkan karya sastra secara lisan untuk memperoleh kesenangan.
f. Cerita Berangkai Tujuan
Siswa dapat melanjutkan cerita yang disampaikan temannya dengan tepat dan dalam lingkup topik yang sama. Satu kelompok (5 orang) berdiri di depan kelas kemudian bercerita tentang topik tertentu yang diawali dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri. Alat yang diperlukan adalah buku catatan.
Cara menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu, (2) siswa membagi kelompok, (3) kelompok menentukan topik yang akan dibawakan di depan kelas, (4) siswa bercerita secara berangkai di depan kelas, (5) kelompok lain memberi komentar tentang cerita berangkai temannya, (6) guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.
g. Menerangkan Obat/Makanan/Minuman/Benda Lainnya
Dalam hal ini siswa dapat menjelaskan sesuatu secara runtut dan benar. Siswa menerangkan sebuah benda yang sudah mereka kenal. Dalam waktu singkat mereka menerangkan mengenai karakter benda tersebut. Benda dapat berupa minuman, obat-obatan, makanan, tas, sepatu, dan lain-lain. Alat yang diperlukan adalah botol obat, botol minuman, makanan instant, tas, bolpoint, dan lain-lain. (Kegiatan dilakukan secara kelompok). Cara menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu, (2) siswa mengambil benda yang mereka kenal, (3) dalam waktu dua menit, secara bergantian siswa menerangkan karakteristik benda yang mereka bawa ke dalam kelompok, (4) siswa lain memberi komentar tentang penjelasan temannya, (50 siswa merefleksikan proses pembelajaran yang mereka alami, (6) guru merefleksikan hasil pembelajaran hari

Mengembangkan pembelajaran Berbicara di SD
Untuk sampai pada taraf terampil, maka pengajaran berbicara harus dipelajari dan dilatihkan. Jika metode dikaitkan dengan pengalaman belajar, maka metode berfungsi sebagai sarana mewujudkan pengalaman belajar yang telah dirancang menjadi kenyataan dalam pelaksanaan pengajaran pokok bahasa tertentu.
Metode pengajaran berbicara menurut Djago Tarigan (1990)
1. Ulang-ucap. Model ucapan adalah suara guru atau rekaman suara guru, model ucapan yang diperdengarkan kepada siswa harus dipersiapkan dengan teliti.
2. Lihat-ucapan. Guru memperlihatkan kepada siswa benda tertentu kemudian siswa menyebutkan benda tersebut.
3. Memerikan. Memerikan berarti menjelaskan, menerangkan, melukiskan, atau mendeskripsikan sesuatu dengan kata-kata sendiri.
4. Menjawab pertanyaan
5. Bertanya
6. Pertanyaan menggali
7. Melanjutkan
8. Menceritakan kembali
9. Percakapan
10. Parafrase
11. Reka cerita gambar
12. Bermain peran
13. Wawancara
14. Memperlihatkan dan bercerita (Show and Tell)

G. Hubungan Menyimak dengan Berbicara
Peristiwa menyimak diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau melalui rekaman radio, telepon, atau televisi. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga kita diidentifikasi jenis dan pengelompokkannya menjadi suku kata, kata, frase, kalusa, kalimat, dan wacana. Jeda dan intonasi pun ikut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian ditafsirkan maknanya, dinilai kebenarannya agar dapat diputuskan diterima tidaknya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa menyimak merupakan proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menafsirkan, menilai, dan mereaksi terhadap makna yang termuat pada wacana lisan. Menyimak dan berbicara merupakan proses interaksi yang ditopang oleh alat komunikasi yang disebut bahasa yang dimiliki dan dipahami bersama.
Secara sederhana dapat kita katakan, bahwa menyimak merupakan proses memahami pesan yang disampaikan melalui bahasa lisan. Sebaliknya, berbicara adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan bahasa lisan. Pesan yang diterima oleh penyimak bukanlah wujud aslinya melainkan berupa bunyi bahsa yang kemudian dialihkan menjadi bentuk semula yaitu ide atau gagasan yang sama seperti yang dimaksudkan oleh si pembicara. Dari hal tersebut kita temukan adanya kaitan antara menyimak dengan berbicara. Berdasarkan jenis bahasa yang digunakan, menyimak dan berbicara termasuk keterampilan berbahasa lisan. Dengan berbicara seorang menyampaikan informasi melalui ujaran. Dengan menyimak kita menerima informasi dari sesorang. Pada kenyataannya peristiwa berbicara selalu dibarengi dengan peristiwa menyimak. Atau peristiwa menyimak pasti ada dalam peristiwa berbicara. Dalam kegiatan komunikasi kedfuanya secara fungsional tidak terpisahkan. Dengan demikian, komunikasi lisan tidak akan terjadi jika kedfua kegiatan itu, yaitu berbicara dan menyimak, tidak berlangsung sekaligus dan tidak saling melengkapi.

H. Strategi Pembelajaran Berbahasa Lisan dan Penerapannya Melalui Kegiatan Bercerita dan Dramatisasi Kreatif
Agar strategi yang dipilih dan diterapkan dapat mencapai sasrannya perlu diperhatikan beberapa prinsip yang melandasi pembelajaran berbahasa lisan seperti berikut ini.
1) Pengajaran keterampilan berbahasa lisan harus mempunyai tujuan yang jelas yang diketahui oleh guru dan sisiwa.
2) Pengajaran keterampilan berbahasa lisan disusun dari yang sederhana ke yang lebih kompleks, sesuai dengan tingkat perkembangan bahasa siswa.
3) Pengajaran keterampilan berbahasa lisan harus mampu menumbuhkan partisipasi aktif terbuka pada diri siswa.
4) Pengajaran keterampilan berbahasa lisan harus benar-benar mengajar, bukan menguji. Artinya skor yang diperoleh siswa harus dipandang sebagai balikan bagi guru.
Agar pembelajaran berbahasa lisan memperoleh hasil yang baik, strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1) Relevan dengan tujuan pembelajaran.
2) Memudahkan siswa memahami materi pembelajaran.
3) Menantang dan merangsang siswa untuk belajar.
4) Mengembangkan kretivitas siswa secara individual ataupun kelompok.
5) Mengarahkan aktivitas belajar siswa kepada tujuan pembeljaran yang telah ditetapkan.
6) Mudah diterapkan dan tidak menuntut peralatan yang rumit.
7) Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
Beberapa strategi pembelajaran berbahasa lisan yang dapat diterapkan di sekolah dasar adalah sebagai berikut.
1. Bermain Tebak-tebakan
Bermain tebak-tebakan dapat dilaksanakan dengan berbagai cara. Cara yang sederhana, guru mendeskrepsikan secara lisan suatu benda tanpa menyebut nama bendanya. Tugas siswa menerka nama benda itu.
Contoh 1
Guru : Anak-anak Ibu punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan dengan seksama, nanti kalau ada yang tau jawabannya langsung acungkan tangan dan langsung jawab, kalian mengerti?”
Siswa : Mengerti, Bu Guru!
Guru : Bagus! Dengarkan, siapa aku. Aku sangat diperlukan untuk lalu lintas. Banyak tempat dan kota yang kuhubungkan. Berbagai jenis mobil lewat di punggungku. Aku dikeraskan dengan batu dan aspal. Silakan terka, siapa aku!
Siswa : Jalan raya!
Contoh 2
Guru :Anak-anak Bapak punya sebuah tebak-tebakan! Dengarkan, Pak Guru akan melukiskan suatu benda. Siapa yang mengetahui benda yang Pak Guru maksudkan, segera acungkan tangan!”
Siswa : Siap, Pak Guru!”
Guru : Bagus! Dengarkan, disana ada sebuah tempat berair. Bentuknya memanjang dan berliku-liku. Air dari sana diperlukan oleh petani. Didalamnya kadang-kadang banyak ikan. Silakan terka, apa nama tempat itu!
Siswa : Sungai!

2. Menjawab Pertanyaan
Latihan menjawab pertanyaan secara lisan berdasarkan bahan simakan sangat menunjang pengembangan keterampilan berbahasa lisan siswa. Ada lima pertanyaan yang perlu diajukan guru, yaitu (1) siapa yang berbicara, (2) apa yang dibicarakan, (3) mengapa hal itu dibicarakan, (4) dimana hal itu dibicarakan, (5) bila hal itu dibicarakan. Dengan demikian, guru harus pandai memilih bahan simakan yang sesuai yang dapat berupa dongeng atau cerita anak, sehingga kelima pertanyaan itu dapat diajukan.
Contoh :
Guru : Pak Guru akan membacakan sebuah cerita singkat. Dengarkan baik-baik karena setelah itu ada beberapa pertanyaan yang harus kalian jawab! Sekali lagi, dengarkan!
Siswa : Siap, Pak Guru!
Inilah teks yang dibacakan guru.
Rombongan SD Sukatani tiba berangsur-angsur di Candi Borobudur. Bus pertama tiba pukul 10.20. Lima menit kemudian menyusul bis kedua dan ketiga secara bersama-sama sedangkan bus keempat tiba 10 menit kemudian.
“Pak, apakah semua bus telah sampai? “kata Bu Euis.
“ Sudah Bu, semua bus telah sampai dengan selamat,” jawab Pak Ujang.
“Syukur kalau begitu,” kata Bu Euis.
Guru :Dari cerita yang kalian dengarkan, sekarang coba jawab pertanyaan dari Pak Guru!
Siswa : Iya, Pak!
Guru : Siapa yang bercakap-cakap dalam cerita yang telah Bapak bacakan?
Ari : Saya Pak, yang bercakap-cakap tadi Bu Euis dengan Pak Ujang!
Guru : Ya benar, tepat sekali jawabanmu, Ari!” Nah pertanyaan selanjutnya, Apa yang Pak Ujang dan Bu Euis bicarakan? Untuk pertanyaan ini silahkan dijawab oleh Rini!
Rini : Mereka membicarakan soal apakah semua bis telah sampai atau tidak.
Guru : Ya benar Rini, Pak Ujangdan Bu Euis mengecek semua bus yang telah sampai. Selanjutnya, giliranmu Diki! Mengapa Pak Ujang dan Bu Euis membicarakan hal itu?
Diki : Agar tahu sudah sampai apa belum semua bus yang ikut bertamasya ke Candi Borobudur Pak!”
Guru : Tepat sekali jawabanmu, Diki. Nah sekarang, Ani! Dimana hal itu dibicarakan?
Ani : Di Candi Borobudur, Pak!
Guru : Tepat sekali. Ok, sekarang pertanyaan terakhir, untuk Rino! Berapa jumlah Bus yang ikut bertamasya ke Candi Borobudur?
Rino : 4 bus, Pak!
Guru : Bagus sekali. Pertanyaan dari Bapak telah kalian jawab dengar benar. Kalian memang murid-murid yang pandai.

3. Menyelesaikan Cerita
Guru atau seorang siswa mulai bercerita. Siswa atau siswa yang lain menyimak cerita yang dilisankan. Cerita yang belum selesai dilisankan guru atau seorang siswa itu dilanjutkan oleh siswa atau pencerita kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai cerita itu tamat. Cara mengajarkan bercerita seperti ini memaksa siswa harus menyimak jalan cerita yang ditampilkan, sebab pada giliran berikutnya setiap siswa mungkin ditujuk guru untuk melanjutkan cerita tersebut. Cara ini dapat pula dilaksanakan dengan jalan menyuruh siswa merngkum secara bergantian sebuah cerita atau dongeng yang diperdengarkan terlebih dulu oleh guru.
Contoh :
Guru : Temanmu yang Ibu tunjuk nanti akan bercerita. Simak baik-baik isi ceritanya sebab pada saatnya nanti Ibu akan menunjuk seorang dari kamu untuk melanjutkan cerita temanmu itu. Jelas apa yang akan kamu lakukan nanti?
Siswa : Jelas, Pak.
Guru : Baik. Andri, Silahkan mulai bercerita.
Andri : Baik, Bu. Ceritanya tentang Gajah yang Ingin Kurus. Siang itu, Gaga, si gajah bertubuh besar, termenung sendirian di depan seonggok rumput. Akan tetapi, kali ini, ia terpaksa membiarkan rumput-rumput itu. Gaga mendongak ketika Merpati hinggap di pohon jati yang mulai kering. “Mengapa kau tidak mau makan rumput, Ga? Apa kamu tak lapar?” Tanya Merpati.
Gaga sebenarnya mendengar pertanyaan Merpati. Akan tetapi, ia menutup mata dan berusaha tidur. Merpati itu terbang dan hinggap di telinganya yang lebar. “Gaga, mengapa kamu tak makan? Teriaknya keras-keras.
Gaga terkejut. Ia tak menyangka Merpati akan seberani itu. Semua hewan di hutan mengenal Gaga sebagai hewan yang paling kuat. Bahkan, Singa saja takut padanya.
Guru : Baik, Andri. Sekarang giliran Lia melanjutkan cerita itu.
Lia : Gaga kemudian berdiri dan mengibas-ngibaskan telinganya yang lebar.
“Aku ingin kurus. Aku tak ingin punya badan sebesar ini. Oleh sebab itulah, aku tak ingin makan rumput. Aku akan puasa,” kata Gaga.
Merpati mengangguk-ngangguk. Sebenarnya, ia merasa kasihan pada Gaga.
“Mengapa kamu tak ingin memiliki tubuh yang besar? Bukankah dengan tubuh besar itu kamu menjadi kuat? tanya Merpati.
“Kata Kucing, jika tubuhku terlalu besar, aku tak akan dapat lari secepat kijang. Jika ada bahaya, aku tak akan menyelamatkan diri.” Gaga kemudian berlari-lari di hutan agar badannya cepat kurus.
Guru : Bagus sekali. Ayo, Rahma lanjutkan!
Rahma : Tubuhmu memerlukan gizi yang cukup. Jadi, kau harus tetap makan. Jika tidak makan, kamu akan lemas dan tidak kuat berjalan lagi,” kata Sapi.
Semua hewan sudah menasehatiGaga agar mau makan seperti semula. Akan tetapi, Gaga tidak mau mendengarkan nasehat mereka.
Lama-kelamaan, Gaga terbaring lemas. Ia tak kuat lagi mengangkat badannya untuk berdiri. Akhirnya, Gaga menyerah. Ia merangkak keluar untuk mencari rumput. “Aku harus mencari makanan! Katanya lemas.
Gaga segera menyantap rumput. Ia sudah jera. Sekarang ia tak takut bertubuh besar. Ia juga tak takut tidak dapat berlari secepat kijang. Pokoknya, ia ingin kuat dan sehat. Semua hewan di hutan, gembira melihat Gaga mau makan lagi.
Guru : Bagus, bagus! Memang hebat sekali anak-anak ibu!

4. Bercerita
Bercerita menuntun siswa menjadi pembicara yang baik dan kreatif. Dengan bercerita siswa dilatih untuk berbicara jelas dengan intonasi yang tepat, menguasai pendengar, dan untuk berperilaku menarik.
Contoh :
Guru : Selamat pagi, Anak-anak
Siswa : Selamat pagi, Bu Guru
Guru : Sesuai dengan janji Ibu tiga hari yang lalu, pada hari ini ibu akan menunjuk salah satu dari kalian untuk bercerita hari ini. Kalian sudah siap?
Siswa : Siap, Bu!
Guru : Bagus, nah sekarang Ibu akan menunjuk Dimas! Nah Dimas silahkan bacakan cerita yang telah kamu siapkan. Sementara yang lain dengarkan dengan seksama cerita Dimas!”
Cerita Dimas sebagai berikut.
Kancil dan Kera
Seekor Kera asik makan pisang. Satu persatu buah pisang masak di tandan itu di petiknya. Dikupas dengan hati-hati lalu dimakannya. Kancil ingin juga menikmati pisang itu. Bagaimana cara mengambilnya? Memintanya? Ah, pasti tidak diberi. Kancil tahu benar kera itu sangat kikir. Kancil menemukan akal, dilemparinya kera itu dengan tanah. Kancil terus melempari Kera. Ia berusaha membuat Kera marah. Lama-kelamaan Kera menjadi marah. Ia balik melempari Kancil. Satu-persatu buah pisang dijadikannya peluru. Kancil jadi sasaran peluru pisang. Kancil pura-pura kesakitan, ia melompat-lompat menggerakan peluru. Kadang-kadang ia jatuh, sekali-kali iapun mengaduh kesakitan. Kera puas. Ia pergi mencari pisang lain, ditinggalkannya kancil yang sedang mengerang-erang kesakitan. Akal bulus sang Kancil berhasil. Kera meninggalkan buah pisang itu. Kancil tinggal mengumpulkan pisang itu, lalu dimakannya dengan santai.
Siswa : menyimak dengan seksama
Guru : Anak-anak setelah kalian mendengarkan cerita dari teman kalian Dimas, sekarang coba kalian jawab pertanyaan dari Ibu. Siapa saja pelaku dari cerita tadi?
Ira : Kancil dan kera
Guru : Benar, Bagaimana sifat si Kancil?
Wiwi : Kancil sifatnya pintar, lihai, licik.
Guru : Bagus Wiwi, nah sebaliknya bagaimana sifat si Kera?
Rita : Sifatnya kikir dan mudah dibodohi.
Guru : Bagus, kalian memang murid-murid yang pintar.

5. Memberi Petunjuk
Memberi petunjuk, seperti petunjuk mengerjakan sesuatu, petunjuk mengenai arah atau letak suatu tempat, memerlukan sejumlah persyaratan. Petujuk harus jelas, singkat, dan tepat. Siswa yang sering berlatih memberi petujuk secara lisan akan lebih terampil berbicara. Karenanya, guru harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk berlatih memberikan petujuk.
Contoh :
Guru : Selamat pagi, anak-anak?
Siswa : Selamat pagi, Bu?
Guru : Sekarang kita akan belajar memberikan petunjuk tentang sesuatu yang dapat menjelaskan suatu hal yang ingin orang ketahui.
Missal : tentang jalan, cara membuat sesuatu/bisa saja tentang denah alamat kalian.
Siswa : Siap, Bu!
Guru :Tebu yang berumur 18-20 bulan dipotong, lalu daunnya dibuang dan dibersihkan. Setelah diikat dengan rapih kemudian diangkut ke pabrik.
Siswa : Terus bagaimana proses di pabrik itu, Bu?
Guru : Di pabrik, tebu-tebu itu di masukkan ke dalam mesin penggilingan. Dari penggilingan itu akan diperoleh air tebu/air gula. Selanjutnya air tebu di tampung di dalam ketel besar.
Siswa : Wah, sulit juga ya prosesnya. Terus, apa proses selanjutnya, Bu?
Guru : Air tebu dalam ketel tersebut di uapkan akhirnya yang tersisa hanya gula.
Siswa : Nah sekarang tebu itu sudah menjadi gula.
Guru : Belum selesai, anak-anak. Masih ada satu proses lagi.
Siswa : Proses apalagi, Bu?
Guru : Nah, proses terakhir adalah menaburkan obat kimia. Tujuannya untuk membentuk kristal-kristal.
Siswa : Wah, tenyata sulit juga ya.
Guru : Sekarang, kalian sudah paham dan mengertikan penjelasan dari Ibu?
Siswa : Iya, Bu!

6. Bertelepon
Berbicara antara dua pribadi yang berjauhan dapat dilakukan dengan bertelepon. Ciri khas bertelepon adalah berbicara jelas, singkat dan lugas. Strategi bertelepon dapat digunakan sebagai strategi pengajaran berbahasa lisan

Contoh :
Guru : Mari kita main telepon-teleponan. Giliran yang bertugas menelepon adalah Andini dan Rima sebagai teman Andini menerima telepon dari Andini.
Ceritanya hari ini hari minggu. Ayah dan Ibu mengajak Rima bekerja bakti. Mereka akan membersihkan lingkungan rumah bersama-sama.
Rima sedang bekerja ketika mendapat telepon dari Andini.
Andini : Halo, selamat pagi!
Rima : Ya, halo. Selamat pagi!
Rima : Eh, Andini. Ada apa, nih? Tumben pagi-pagi telepon.
Andini : Dirumahku lagi sepi. Aku main ke rumahmu, ya?
Rima : Boleh saja. Tapi aku sedang bekerja bakti.
Andini : Bekerja bakti? Rajin sekali kamu, Rim!
Rima : Ya, supaya lingkungan kita bersih dan sehat, Din!
Andini : Memangmnya apa saja yang dilakukan?
Rima : Macam-macam. Membersihkan kamar mandi, menyapu dan mengepel lantai, membersihkan halaman, dan membersihkan got.
Andini : Kamu ikut melakukan semua itu?
Rima : Tidak. Aku tadi ditugasi merapikan kamar dan menyapu halaman.
Andini : Pantas saja rumahmu selalu bersih. Aku juga betah lama-lama dirumahmu.
Rima : Terima kasih pujiannya. Ngomong-ngomong, kamu jadi kerumahku?
Andini : Jadi, tapi nanti sore saja. Aku juga mau membereskan kamarku agar rapi seperti kamarmu.
Rima : Nah, gitu, dong! Nanti sore aku tunggu, ya?
Andini : Oke, Rim. Terima kasih, ya. Sampai ketemu nanti sore.

7. Diskusi
Berdiskusi pada dasarnya merupakan interaksi verbal secara tatap muka yang dilakukan oleh lebih dari dua individu. Diskusi merupakan percakapan dalam bentuk lajut yang bobot pembicaraannya lebih kompleks darpada percakapan yang biasa dilakukan oleh dua orang. Berdiskusi merupakan strategi yang baik bagi pengembangan keterampilan berbahasa lisan, khususnya berbicara untuk bermusyawarah atau memcahkan masalah.

Contoh :
Guru : Pada hari senin kemarin kita mendengar berita bahwa kampung Deli terkena bencana alam. Veni, Leni, Ana, Linda, dan Yusuf berencana mengunjungi kampung Deli. Lalu apa yang akan mereka sumbangkan untuk membantu korban bencana alam tersebut?
Itulah yang harus mereka lakukan.
Silahkan kelima anak yang telah Bapak sebutkan mulai berdiskusi.
Veni : Len, aku kasihan kepada penduduk kampong Deli. Akibat banjir itu mereka menderita.
Leni : Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Ana : Bagaimana kalau kita mengadakan bakti social ke sana?
Linda : Aku setuju, Na!
Veni : Aku akan menyisihkan sebagian tabunganku.
Ana : Aku akan mengumpulkan pakaian pantas pakai. Aku piker, mereka sangat membutuhkannya?
Linda : Aku akan membeli bahan makanan untuk mereka.
Ana : Bagaimana denganmu Suf?
Yusuf : Aku setuju saja. Tapi saat ini aku tidak punya apa-apa untuk aku sumbangkan.
Leni : Tidak apa-apa, Suf. Kamu kan punya pakaian bekas. Itu saja kamu sumbangkan yang penting, kamu ikhlas.
Yusuf : Baiklah kalau begitu. Besok akan aku bawakan.

8. Main Peran
Main peran adalah simulasi (tiruan) tingkah laku dari orang yang diperankan. Tujuannya adalah (1) melatih siswa untuk menghadapi situasi yang sebenarnya, (2) melatih praktik berbahasa lisan secara intensif, (3) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya berkomunikasi. Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan berbahasa seperti orang yang diperankannya. Dari segi bahasa berarti siswa harus mengenal dan dapat menggunakan ragam-ragam bahasa yang sesuai.
Contoh :

9. Dramatisasi
Demonstrasi atau bermain drama adalah kegiatan mementaskan lakon atau cerita. Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam bentuk drama. Guru dan siswa terlebih dahulu harus mempersiapkan naskah atau skenario, perilaku dan perlengkapan. Bermain drama lebih kompleks daripada bermain peran. Melalui dramatisasi, siswa dilatih untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam bentuk bahasa lisan.
Contoh:



DAFTAR PUSTAKA

Rofi’uddin, dkk. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi.jakarta. Depdikbud.
Tarigan, Djago. 1991. Pendidikan Bahasa Indonesia 1. Jakarta. Depdikbud PPTKPT.
Haryadi. Dkk. 1996. Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta. Depdikbud Dirjen Dikti.

PENDIDIKAN IPS DAN KARAKTERISTIK PENDIDIKAN IPS DI SD


PENDIDIKAN IPS DAN KARAKTERISTIK PENDIDIKAN IPS DI SD

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Mempelajari Konsep dasar IPS berisi tentang konsep, hakikat, dan karakteristik pendidikan IPS SD. Dengan mempelajari materi Konsep dasar IPS ini, diharapkan dapat menjelaskan konsep-konsep IPS yang berpengaruh terhadap kehidupan masa kini dan masa yang akan datang secara kritis dan kreatif. Pembahasan materi ini menerapkan pendekatan antar disiplin yang mengintegrasikan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Adapun media yang digunakan adalah bahan ajar cetak dan non cetak (web).
Sebagai calon guru SD hendaknya menguasai materi IPS sebagai program pendidikan. Untuk membantu menguasai materi tersebut maka dalam Konsep Pendidikan IPS, disajikan pembahasan hal-hal pokok dan latihan sebagai berikut :
1. konsep pendidikan IPS
2. hakikat pendidikan IPS
3. karakteristik pendidikan IPS di SD

B. TUJUAN
Setelah mempelajari materi Konsep Pendidikan IPS, diharapkan dapat menjelaskan tentang :
1. Pengertian IPS
2. Sejarah IPS di Indonesia
3. Rasional mempelajari IPS di SD
4. Hakikat pengajaran IPS
5. Tujuan pembelajaran IPS di SD
6. Karakteristik pembelajaran IPS di SD

C. RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana pengertian IPS dan konsep Pendidikan IPS?
2. Bagaimana sejarah perkembangan IPS di Indonesia?
3. Apakah hakikat pendidikan atau pengajaran IPS?
4. Apa tujuan dari pembelajaran IPS di SD?
5. Apa saja Karakteristik pembelajaran IPS di SD?

BAB II
KONSEP PENDIDIKAN IPS
A. Pengertian IPS
IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan sub-disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya
Dalam bidang pengetahuan sosial, ada banyak istilah. Istilah tersebut meliputi : Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

1. Ilmu Sosial (Sicial Science)
Achmad Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertarap akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi, makin lanjut makin ilmiah”.
Menurut Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.
Nursid Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
2. Studi Sosial (Social Studies).
Perbeda dengan Ilmu Sosial, Studi Sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah social. Tentang Studi Sosial ini, Achmad Sanusi (1971:18) memberi penjelasan sebagai berikut : Sudi Sosial tidak selalu bertaraf akademis-universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar.

3. Pengetahuan Sosial (IPS)
Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah “Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama sebuah komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari pendirian lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat sekolah dan ahli-ahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama.
Definisi IPS menurut National Council for Social Studies (NCSS), mendifisikan IPS sebagai berikut: social studies is the integrated study of the science and humanities to promote civic competence. Whitin the school program, socisl studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizen of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world.
Pada dasarnya Mulyono Tj. (1980:8) memberi batasan IPS adalah merupakan suatu pendekatan interdsipliner (Inter-disciplinary Approach) dari pelajaran Ilmu-ilmu Sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang Ilmu-ilmu Sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh Saidiharjo (1996:4) bahwa IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik.

B. Sejarah Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Sosial
Bidang studi IPS yang masuk ke Indonesia adalah berasal dari Amerika Serikat, yang di negara asalnya disebut Social Studies. Pertama kali Social Studies dimasukkan dalam kurikulum sekolah adalah di Rugby (Inggris) pada tahun 1827, atau sekitar setengah abad setelah Revolusi Industri (abad 18), yang ditandai dengan perubahan penggunaan tenaga manusia menjadi tenaga mesin.
Latar belakang dimasukkannya Social studies dalam kurikulum sekolah di Amerika Serikat berbeda dengan di Inggris karena situasi dan kondisi yang menyebabkannya juga berbeda. Penduduk Amerika Serikat terdiri dari berbagai macam ras diantaranya ras Indian yang merupakan penduduk asli, ras kulit putih yang datang dari Eropa dan ras Negro yang didatangkan dari Afrika untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan negara tersebut.
Pada awalnya penduduk Amerika Serikat yang multi ras itu tidak menimbulkan masalah. Baru setelah berlangsung perang saudara antara utara dan selatan atau yang dikenal dengan Perang Budak yang berlangsung tahun l861-1865 dimana pada saat itu Amerika Serikat siap untuk menjadi kekuatan dunia, mulai terasa adanya kesulitan, karena penduduk yang multi ras tersebut merasa sulit untuk menjadi satu bangsa.
Selain itu juga adanya perbedaan sosial ekonomi yang sangat tajam. Para pakar kemasyarakatan dan pendidikan berusaha keras untuk menjadikan penduduk yang multi ras tersebut menjadi merasa satu bangsa yaitu bangsa Amerika. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memasukkan social studies ke dalam kurikulum sekolah di negara bagian Wisconsin pada tahun 1892. Setelah dilakukan penelitian, maka pada awal abad 20, sebuah Komisi Nasional dari The National Education Association memberikan rekomendasi tentang perlunya social studies dimasukkan ke dalam kurikulum semua sekolah dasar dan sekolah menengah Amerika Serikat. Adapun wujud social studies ketika lahir merupakan semacam ramuan dari mata pelajaran sejarah, geografi dan civics.
Di samping sebagai reaksi para pakar Ilmu Sosial terhadap situasi sosial di Inggris dan Amerika Serikat, pemasukan Social Studies ke dalam kurikulum sekolah juga dilatarbelakangi oleh keinginan para pakar pendidikan. Hal ini disebabkan mereka ingin agar setelah meninggalkan sekolah dasar dan menengah, para siswa: (1) menjadi warga negara yang baik, dalam arti mengetahui dan menjalankan hak-hak dan kewajibannya; (2) dapat hidup bermasyarakat secara seimbang, dalam arti memperhatikan kepentingan pribadi dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, para siswa tidak perlu harus menunggu belajar Ilmu-ilmu Sosial di perguruan tinggi, tetapi sebenarnya mereka sudah mendapat bekal pelajaran IPS di sekolah dasar dan menengah. Pengembangan Pendidikan IPS SD 1 - 9
Pertimbangan lain dimasukkannya social studies ke dalam kurikulum sekolah adalah kemampuan siswa sangat menentukan dalam pemilihan dan pengorganisasian materi IPS. Agar materi pelajaran IPS lebih menarik dan lebih mudah dicerna oleh siswa sekolah dasar dan menengah, bahan-bahannya diambil dari kehidupan nyata di lingkungan masyarakat. Bahan atau materi yang diambil dari pengalaman pribadi, teman-teman sebaya, serta lingkungan alam, dan masyarakat sekitarnya. Hal ini akan lebih mudah dipahami karena mempunyai makna lebih besar bagi para siswa dari pada bahan pengajaran yang abstrak dan rumit dari Ilmu-ilmu Sosial.
Latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia sangat berbeda dengan di Inggris dan Amerika Serikat. Pertumbuhan IPS di Indonesia tidak terlepas dari situasi kacau, termasuk dalam bidang pendidikan, sebagai akibat pemberontakan G30S/PKI, yang akhirnya dapat ditumpas oleh Pemerintahan Orde Baru. Setelah keadaan tenang pemerintah melancarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Pada masa Repelita I (1969-1974) Tim Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan lima masalah nasional dalam bidang pendidikan. Kelima masalah tersebut antara lain:
1. Kuantitas, berkenaan dengan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar.
2. Kualitas, menyangkut peningkatan mutu lulusan
3. Relevansi, berkaitan dengan kesesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan pembangunan.
4. Efektifitas sistem pendidikan dan efisiensi penggunaan sumber daya dan dana.
5. Pembinaan generasi muda dalam rangka menyiapkan tenaga produktif bagi kepentingan pembangunan nasional.
Pada tahun 2004, pemerintah melakukan perubahan kurikulum kembali yangn dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dalam kurikulum SD, IPS berganti nama menjadi Pengetahuan Sosial. Pengembangan kurikulum Pengetahuan Sosial merespon secara positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran Pengetahuan Sosial dengan keadaan dan kebutuhan setempat.

C. Rasional Mempelajari IPS.
Rasionalisasi mempelajari IPS untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa dapat:
1. Mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna.
2. Lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab.
3. Mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia.
IPS atau disebut Pengetahuan Sosial pada kurikulum 2004, merupakan satu mata pelajaran yang diberikan sejak SD dan MI sampai SMP dan MTs. Untuk jenjang SD dan MI Pengetahuan Sosial memuat materi Pengetahuan Sosial dan Kewarganegaraan.
Pada haikatnya, pengetahuan Sosial sebabagi suatu mata pelajaran yang menjadi wahana dan alat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, antara lain:
1. Siapa diri saya?
2. Pada masyarakat apa saya berada?
3. Persyaratan-persyaratan apa yang diperlukan diri saya untuk menjadi anggota suatu kelompok masyarakat dan bangsa?
4. Apa artinya menjadi anggota masyarakat bangsa dan dunia?
5. Bagaimanakah kehidupan manusia dan masyarakat berubah dari waktu ke waktu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab oleh setiap siswa, dan jawabannya telah dirancang dalam Pengetahuan sosial secara sistematis dan komprehensip. Dengan demikian, Pengetahuan Sosial diperlukan bagi keberhasilan siswa dalam kehidupan di masyarakat dan proses menuju kedewasaan.


BAB III
HAKIKAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN IPS
Hakikat IPS, adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya. Dengan kemajuan teknologi pula sekarang ini orang dapat berkomunikasi dengan cepat di manapun mereka berada melalui handphone dan internet. Kemajuan Iptek menyebabkan cepatnya komunikasi antara orang yang satu dengan lainnya, antara negara satu dengan negara lainnya. Dengan demikian maka arus informasi akan semakin cepat pula mengalirnya. Oleh karena itu diyakini bahwa “orang yang menguasai informasi itulah yang akan menguasai dunia”.
Suatu tempat atau ruang dipermukaan bumi, secara alamiah dicirikan oleh kondisi alamnya yang meliputi iklim dan cuaca, sumber daya air, ketinggian dari permukaan laut, dan sifat-sifat alamiah lainnya. Jadi bentuk muka bumi seperti daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi, dan daerah pegunungan akan mempengaruhi terhadap pola kehidupan penduduk yang menempatinya. Lebih jelasnya Anda dapat mencermati contoh berikut ini.
• Corak kehidupan masyarakat di tepi pantai utara Jawa yang bentuknya landai dengan laut yang tenang dan tidak begitu tinggi serta arus angin yang tidak begitu kencang, sangat menguntungkan bagi masyarakat untuk mencari ikan. Hal ini disebabkan ikan banyak berkumpul di kawasan laut yang dangkal yang masih tertembus sinar matahari. Oleh karena itu mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan. Hampir semua pelabuhan-pelabuhan besar di pulau Jawa sebagian besar terletak di pantai utara Jawa.
• Dataran rendah yang meliputi daerah pantai sampai ketinggian 700 meter di atas permukaan laut merupakan kawasan yang cadangan airnya cukup, didukung oleh iklimnya yang cocok, merupakan potensi alam yang cocokuntuk dikembangkan sebagai areal pertanian, misalnya Karawang, Bekasi, Indramayu, Subang dan sebagainya. Dataran tinggi yang beriklim sejuk, dengan cadangan air yang sudah semakin berkurang maka sistem pertanian yang dikembangkan adalah pertanian lahan kering dan holtikultura seperti sayuran, buah-buahan, da tanaman hias.
• Lain dengan daerah pegunungan yang memiliki corak tersendiri. Karena sedikitnya persediaan air tanah, mengakibatkan pemukiman penduduk terpusat di lembah-lembah atau mendekati alur sungai. Hal ini dikarenakan mereka berusaha untuk mendapatkan sumber air yang relatif mudah. Ladang yang mereka usahakan biasanya terletak di lembah pegunungan.
Aspek pengaturan dan kebijakan ini termasuk aspek politik
Marilah kita cermati kembali apa yang sudah kita pelajari di atas. Setelah kita pelajari ternyata kehidupan itu banyak aspeknya, meliputi aspek-aspek:
1. hubungan sosial: semua hal yang berhubungan dengan interaksi manusia tentang proses, faktor-faktor, perkembangan, dan permasalahannya dipelajari dalam ilmu sosiologi
2. ekonomi: berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan manusia, perkembangan, dan permasalahannya dipelajari dalam ilmu ekonomi
3. psikologi: dibahas dalam ilmu psikologi
4. budaya: dipelajari dalam ilmu antropologi
5. sejarah: berhubungan dengan waktu dan perkembangan kehidupan manusia dipelajari dalam ilmu sejarah
6. geografi: hubungan ruang dan tempat yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia dipelajari dalam ilmu geografi
7. politik: berhubungan dengan norma, nilai, dan kepemimpinan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dipelajari dalam ilmu politik

Tujuan Pendidikan IPS
Berdasarkan pada falsafah negara tersebut, maka telah dirumuskan tujuan pendidikan nasional, yaitu:
membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rokhaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesama manusia sesuai ketentuan yang termaksud dalam UUD 1945.
Berkaitan dengan tujuan pendidikan di atas, kemudian apa tujuan dari pendidikan IPS yang akan dicapai? Tentu saja tujuan harus dikaitkan dengan kebutuhan dan disesuaikan dengan tantangan-tantangan kehidupan yang akan dihadapi anak. Berkaitaan dengan hal tersebut, kurikulum 2004 untuk tingkat SD menyatakan bahwa, Pengetahuan Sosial (sebutan IPS dalam kurikulum 2004), bertujuan untuk:
1. mengajarkan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, sejarah, dan kewarganegaraan, pedagogis, dan psikologis.
2. mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial
3. membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4. meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara nasional maupun global.
Sejalan dengan tujuan tersebut tujuan pendidikan IPS menurut (Nursid Sumaatmadja. 2006) adalah “membina anak didik menjadi warga negara yang baik, yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepedulian social yang berguna bagi dirinya serta bagi masyarakat dan negara” Sedangkan secara rinci Oemar Hamalik merumuskan tujuan pendidikan IPS berorientasi pada tingkah laku para siswa, yaitu : (1) pengetahuan dan pemahaman, (2) sikap hidup belajar, (3) nilai-nilai sosial dan sikap, (4) keterampilan (Oemar hamalik. 1992 : 40-41).
Untuk lebih jelasnya akan dibahas satu persatu.

Pengetahuan dan Pemahaman
Salah satu fungsi pengajaran IPS adalah mentransmisikan pengetahuan dan pemahaman tentang masyarakat berupa fakta-fakta dan ide-ide kepada anak.

Sikap belajar
IPS juga bertujuan untuk mengembangkan sikap belajar yang baik. Artinya dengan belajar IPS anak memiliki kemampuan menyelidiki (inkuiri) untuk menemukan ide-ide, konsep-konsep baru sehingga mereka mampu melakukan perspektif untuk masa yang akan datang.
Nilai-nilai sosial dan sikap
Anak membutuhkan nilai-nilai untuk menafsirkan fenomena dunia sekitarnya, sehingga mereka mampu melakukan perspektif. Nilai-nilai sosial merupakan unsur penting di dalam pengajaran IPS. Berdasar nilai-nilai sosial yang berkembang dalam masyarakat, maka akan berkembang pula sikap-sikap sosial anak. Faktor keluarga, masyarakat, dan pribadi/tingkah laku guru sendiri besar pengaruhnya terhadapa perkembangan nilai-nilai dan sikap anak.

Keterampilan dasar IPS
Anak belajar menggunakan keterampilan dan alat-alat studi sosial, misalnya mencari bukti dengan berpikir ilmiah, keterampilan mempelajari data masyarakat, mempertimbangkan validitas dan relevansi data, mengklasifikasikan dan menafsirkan data-data sosial, dan merumuskan kesimpulan.

Karakteristik Pendidikan IPS SD
Untuk membahas karakteristik IPS, dapat dilihat dari berbagai pandangan. Berikut ini dikemukakan karakteristik IPS dilihat dari materi dan strategi penyampaiannya.
1. Materi IPS
Ada 5 macam sumber materi IPS antara lain:
a. Segala sesuatu atau apa saja yang ada dan terjadi di sekitar anak sejak dari keluarga, sekolah, desa, kecamatan sampai lingkungan yang luas negara dan dunia dengan berbagai permasalahannya.
b. Kegiatan manusia misalnya: mata pencaharian, pendidikan, keagamaan, produksi, komunikasi, transportasi.
c. Lingkungan geografi dan budaya meliputi segala aspek geografi dan antropologi yang terdapat sejak dari lingkungan anak yang terdekat sampai yang terjauh.
d. Kehidupan masa lampau, perkembangan kehidupan manusia, sejarah yang dimulai dari sejarah lingkungan terdekat sampai yang terjauh, tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian yang besar.
e. Anak sebagai sumber materi meliputi berbagai segi, dari makanan, pakaian, permainan, keluarga.
2. Strategi Penyampaian Pengajaran IPS
Strategi penyampaian pengajaran IPS, sebagaian besar adalah didasarkan pada suatu tradisi, yaitu materi disusun dalam urutan: anak (diri sendiri), keluarga, masyarakat/tetangga, kota, region, negara, dan dunia. Tipe kurikulum seperti ini disebut “The Wedining Horizon or Expanding Enviroment Curriculum” (Mukminan, 1996:5).
Sebutan Masa Sekolah Dasar, merupakan periode keserasian bersekolah, artinya
anak sudah matang untuk besekolah. Adapun kriteria keserasian bersekolah adalah sebagai berikut.
1. Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan teman-teman sebaya, tidak boleh tergantung pada ibu, ayah atau anggota keluarga lain yang dikenalnya.
2. Anak memiliki kemampuan sineik-analitik, artinya dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhannya, dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
3. Secara jasmaniah anak sudah mencapai bentuk anak sekolah.
Menurut Preston (dalam Oemar Hamalik. 1992 : 42-44), anak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Anak merespon (menaruh perhatian) terhadap bermacam-macam aspek dari dunia sekitarnya.Anak secara spontan menaruh perhatian terhadap kejadian-kejadian-peristiwa, benda-benda yang ada disekitarnya. Mereka memiliki minat yang laus dan tersebar di sekitar lingkungnnya.
2. Anak adalah seorang penyelidik, anak memiliki dorongan untuk menyelidiki dan menemukan sendiri hal-hal yang ingin mereka ketahui.
3. Anak ingin berbuat, ciri khas anak adalah selalu ingin berbuat sesuatu, mereka ingin aktif, belajar, dan berbuat
4. Anak mempunyai minat yang kuat terhadap hal-hal yang kecil atau terperinci yang seringkali kurang penting/bermakna
5. Anak kaya akan imaginasi, dorongan ini dapat dikembangkan dalam pengalaman-pengalaman seni yang dilaksanakan dalam pembelajaran IPS sehingga dapat memahami orang-orang di sekitarnya. Misalnya pula dapat dikembangkan dengan merumuskan hipotesis dan memecahkan masalah.
Berkaitan dengan atmosfir di sekolah, ada sejumlah karakteristik yang dapat diidentifikasi pada siswa SD berdasarkan kelas-kelas yang terdapat di SD.



1. Karakteristik pada Masa Kelas Rendah SD (Kelas 1,2, dan 3)
a. Ada hubungan kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah
b. Suka memuji diri sendiri
c. Apabila tidak dapat menyelesaikan sesuatu, hal itu dianggapnya tidak penting
d. Suka membandingkan dirinya dengan anak lain dalam hal yang menguntungkan dirinya
e. Suka meremehkan orang lain
2. Karakteristik pada Masa Kelas Tinggi SD (Kelas 4,5, dan 6).
a. Perhatianya tertuju pada kehidupan praktis sehari-hari
b. Ingin tahu, ingin belajar, dan realistis
c. Timbul minat pada pelajaran-pelajaran khusus
d. Anak memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah.
Menurut Jean Piagiet, usia siswa SD (7-12 tahun) ada pada stadium operasional konkrit. Oleh karena itu guru harus mampu merancang pembelajaran yang dapat membangkitkan siswa, misalnya penggalan waktu belajar tidak terlalu panjang, peristiwa belajar harus bervariasi, dan yang tidak kalah pentingnya sajian harus dibuat menarik bagi siswa.


PENUTUP
IPS merupakan bidang studi baru, karena dikenal sejak diberlakukan kurikulum 1975. Dikatakan baru karena cara pandangnya bersifat terpadu, artinya bahwa IPS merupakan perpaduan dari sejumlah mata pelajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi. Adapun perpaduan ini disebabkan mata pelajaran-mata pelajaran tersebut mempunyai kajian yang sama yaitu manusia.
Pendidikan IPS penting diberikan kepada siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, karena siswa sebagai anggota masyarakat perlu mengenal masyarakat dan lingkungannya. Untuk mengenal masyarakat siswa dapat beljar melalui media cetak, media elektronika, maupun secara langsung melalui pengalaman hidupnya ditengah-tengah msyarakat. Dengan pengajaran IPS, diharapkan siswa dapat memiliki sikap peka dan tanggap untuk bertindak secara rasional dan bertanggungjawab dalam memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupannya.

(Pemerolehan Bahasa Anak, Kurikulum Dan Pembelajaran Bahasa Indonesia d Kelas Rendah, Pendekatan dan Metode Bahasa Indonesia di Kelas Rendah)


Mata Kuliah : Pendidikan Bahasa Indonesia Kelas Rendah

Dosen Pembimbing : Dr. Suwarjo, M.Pd

Oleh:
Heru Yuono 0713053032
Semester V


B BAB I

A. PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
Darjowidjojo (dalam Tarigan dkk.,1998.,dalam Faisal dkk, 2009:2-16) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa anak itu tidaklah tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan maupun berbahasa merekan berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Oleh karena itu, perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ungkapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Tangisan, bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana tak bermakna, dan celotehan bayi merupakan jembatan yang memfasilitasi alur perkembangan bahasa anak menuju kemampuan berbahasa yang lebih sempurna. Bagi anak, celotehan merupakan semacam latihan untuk menguasai gerak artikulatoris (alat ucap) yang lama kelamaan dikaitkan dengan kebermaknaan bentuk bunyi yang diujarkannya. Keterampilan berpikir diperlukan agar semua aspek keterampilan berbahasa berkembang. Piaget, Bruner, dan Vygantsky telah mengemukakan teori-teori perkembangan kognitif yang paling komprehensif (Athey, lewat Ross dan Roe, 1990:30, dalam Darmiyati dkk, 1996:5). Ketiga pakar tersebut mengetahui bahwa ada hubungan antara pikiran dan bahasa, tetapi mereka berbeda dalam hal cara pikiran dan bahasa itu berhubungan. Vygatsky yakin bahwa bahasa merupakan dasar bagi pembentukan konsep dan pikiran. Kegiaran tidak mungkin terjadi tanpa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan buah pikiran. Dia menegaskan bahwa bahasa diperlukan untuk setiap jenis kegiatan belajar. Berbeda dengan Vygatsky, Piaget (dalam Darmiyati, 1996:6) mengatakan bahwa bahasa itu penting untuk beberapa jenis kegiatan belajar tetapi tidak untuk semua kegiatan belajar. Piaget yakin bahwa perkembangan kognitif anak mendahului perkembangan bahasanya. Piaget membagi perkembangan kognitif ke dalam empat fase, yaitu fase sensorimotor, fase praoperasional, fase operasi konkret, dan fase operasi formal (Piaget, 1972: 49-91.,dalam http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html). a. Fase Sensorimotor (usia 0 - 2 tahun) Pada masa dua tahun kehidupannya, anak berinteraksi dengan dunia di sekitarnya, terutama melalui aktivitas sensoris (melihat, meraba, merasa, mencium, dan mendengar) dan persepsinya terhadap gerakan fisik, dan aknvitas yang berkaitan dengan sensoris tersebut. Koordinasi aktivitas ini disebut dengan istilah sensorimotor. Fase sensorimotor dimulai dengan gerakan-gerakan refleks yang dimiliki anak sejak ia dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahamannya tentang lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor, seperti menggenggam, mengisap, melihat, melempar, dan secara perlahan ia mulai menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya, atau dapat dipisahkan dari lingkungan di mana benda itu berada. Selanjutnya, ia mulai belajar bahwa benda-benda itu memiliki sifat-sifat khusus. Pada akhir usia 2 tahun, anak sudah menguasai pola-pola sensorimotor yang bersifat kompleks, seperti bagaimana cara mendapatkan benda yang diinginkannya (menarik, menggenggam atau meminta), menggunakan satu benda dengzur tujuan yangb erbeda. Dengan benda yanga da di tangannya,ia melakukan apa yang diinginkannya. Kemampuan ini merupakan awal kemampuan berpilar secara simbolis, yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empiris. b. Fase Praoperasional (usia 2 - 7 tahun) Pada fase praoperasional, anak mulai menyadari bahwa pemahamannya tentang benda-benda di sekitarnya tidak hanya dapat dilakukan melalui kegiatan sensorimotor, akan tetapi juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat simbolis. Kegiatan simbolis ini dapat berbentuk melakukan percakapan melalui telepon mainan atau berpura-pura menjadi bapak atau ibu, dan kegiatan simbolis lainnva Fase ini rnemberikan andil yang besar bagi perkembangan kognitif anak. Pada fase praoperasional, anak trdak berpikir secara operasional yaitu suatu proses berpikir yang dilakukan dengan jalan menginternalisasi suatu aktivitas yang memungkinkan anak mengaitkannya dengan kegiatan yang telah dilakukannya sebelumnya. Subfase fungsi simbolis terjadi pada usia 2 - 4 tahun. Pada masa ini, anak telah memiliki kemampuan untuk menggarnbarkan suatu objek yang secara fisik tidak hadir. Kemampuan ini membuat anak dapat rnenggunakan balok-balok kecil untuk membangun rumah-rumahan, menyusun puzzle, dan kegiatan lainnya. Pada masa ini, anak sudah dapat menggambar manusia secara sederhana. Subfase berpikir secara egosentris terjadi pada usia 2-4 tahun. Berpikir secara egosentris ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk memahami perspektif atau cara berpikir orang lain. Benar atau tidak benar, bagl anak pada fase ini, ditentukan oleh cara pandangnya sendiri yang disebut dengan istilah egosentris. Subfase berpikir secata intuitif tenadi pada usia 4 - 7 tahun. Masa ini disebut subfase berpikir secara intuitif karena pada saat ini anah kelihatannva mengerti dan mengetahui sesuatu, seperti menyusun balok meniadi rumah-rumahan, akan tetapi pada hakikatnya tidak mengetahui alasan-alasan yang menyebabkan balok itu dapat disusun meniadi rumah. Dengan kata lain, anak belum memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis tentang apa yang ada dibalik suatu kejadian. c. Fase Operasi Konkret (usia 7- 12 tahun) Pada fase operasi konkret, kemampuan anak untuk berpikir secara logis sudah berkembang, dengan syarat, obyek yang menjadi sumber berpikir logis tersebut hadir secara konkret. Kemampuan berpikir logis ini terwujud dalam kemampuan mengklasifikasikan obyek sesuai dengan klasifikasinya, mengurutkan benda sesuai dengan urutannya, kemampuan untuk memahami cara pandang orang lain, dan kemampuan berpikir secara deduktif. d. Fase Operasi Formal (12 tahun sampai usia dewasa) Fase operasi formal ditandai oleh perpindahan dari cara berpikir konkret ke cara berpikir abstrak. Keulampuan berpikir abstrak dapat dilihat dari kemampuan mengemukakan ide-ide, memprediksi kejadian yang akan terjadi, dan melakukan proses berpikir ilmiah, yaitu mengemukakan hipotesis dan menentukan cara untuk membuktikan kebenaran hipotesis. Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah peoses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Proses-proses ketika anak sedang memperoleh bahasa ibunya terdiri dari dua aspek yaitu: 1. aspek performance yang terdiri dari aspek-aspek pemahaman dan pelahiran. 2. aspek kompetensi. Kedua jenis proses ini berlainan. Proses-proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar sedangkan proses pelahiran melibatkan kemampuan melahirkan atau seorang anak akan menjadi kemampuan linguistiknya.kemampuan ini terdiri dari tiga kemampuan yaitu: kemampuan pemeroleh fonologi, semantik dan kalimat. Tiga komponen ini dieroleh anak secara serentak dan bersamaan. Pembelajaran bahasa menyangkut proses-proses yang berlaku pada masa seseorang sedang mempelajari bahasa baru setelah ia selesai memperoleh bahasa ibunya. Dengan kata lain pemerolehan bahasa melibatkan bahasa pertama sedangkan pembelajaran bahasa melibatkan bahasa kedua atau bahasa asing. B. PEMEROLEHAN BAHASA ANAK 1. HAKIKAT PEMEROLEHAN BAHASA ANAK Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman ataupun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk. , 1998 dalam Faisal dkk, 2009:2-3). Selain pendapat tersebut Kiparsky dalam Tarigan (1988) dalam Faisal dkk (2009:2-3) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa persangkutan. Dengan demikian, proses pemerolehan adalah proses bawah sadar. Penguasaan bahasa tidak disadari dan tidak dipengaruhi oleh pengajaran yang secara eksplisit tentang system kaidah yang ada didalam bahasa kedua. Berbeda dengan proses pembelajaran, adalah proses yang dilakukan secara sengaja atau secara sadra dilakukan oleh pembelajar di dalam menguasai bahasa. Adapun karakteristik pemerolehan bahasa menurut Tarigan dkk (1998) dalam Faisal dkk (2009:2-4) adalah : a. Berlangsung dalam situasi formal, anak-anak belajar bahasa tanpa beban dan di luar sekolah; b. Pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal dilembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus; c. Dilakukan tanpa sadar atau spontan; dan d. Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak. a. Pemerolehan Bahasa Pertama Gracia (dalam Krisanjaya, 1998) dalam Resmini Novi, 2006 mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai cirri berkesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis). Ada dua pandangan mengenai pemerolehan bahasa (McGraw dalam Krisanjaya, 1988) dalam Resmini Novi, 2006. Pertama pemerolehan bahasa mempunyai permulaan mendadak atau tiba-tiba. Kebebasan berbahasa dimulai sekitar satu tahun ketika anak-anak menggunakan kata-kata lepas atau terpisah dari symbol pada kebahasaan untuk mencapai aneka tujuan social mereka. Pandangan kedua menyatakan bahwa pandangan bahasa memliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, social dan kemampuan kognitif pralinguistik. Strategi Pemerolehan Bahasa Anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4 strategi. Strategi pertama adalah meniru/imitasi. Berbagai penelitian menemukan berbagai jenis peniruan atau imitasi, seperti:imitasi spontan, imitasi perolehan, imitasi segera, imitasi lambat, dan imitasi perluasan. Strategi kedua dalam pemerolehan bahasa adalah strtegi produktivitas. Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa melalui sarana komunikasi linguistic dan non linguistic (mimic, gerak, isyarat, suara dan sebagainya.) Strategi ketiga adalah strategi umpan balik, yaitu umpan balik antara strategi produksi ujaran (ucapan) dengan response. Strategi keempat adalah apa yang disebut dengan prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman, ”gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menggunakan bahasa” (hindarkan kekecualian, prinsip khusus: seperti kata: berajar menjadi belajar). b. Pemerolehan Bahasa Kedua Pemerolehan bahasa kedua dimaknai saat seseorang memperoleh bahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai sampai batas tertentu bahasa pertamanya (bahasa ibu). Ada juga yang menyatakan istilah bahasa kedua adalah bahasa asing. Kusus bagi kondisi Indonesia, istilah bahasa pertama atau bahasa ibu, bahasa asli atau bahasa utama, berwujud dalam bahasa daerah tertentu sedangkan bahasa kedua berwujud dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. Terdapat perbedaan dalam proses belajar bahasa pertama dan bahasa kedua. Proses belajar bahasa pertama memiliki ciri-ciri: • Belajar tidak disengaja • Langsung sejak lahir • Lingkungan keluarga sangat menentukan • Motivasi ada karena kebutuhan • Banyak waktu untuk mencoba bahasa • Banyak kesempatan untuk berkomunikasi. Pada proses belajar bahasa kedua terdapat ciri-ciri: • Belajar bahasa disengaja • Berlangsung setelah pelajar berada di sekolah • Lingkungan sekolah sangat menentukan • Motivasi pelajar untuk mempelajarinya tidak sekuat mempelajari bahasa pertama. Motivasi itu misalnya ingin memperoleh nilai baik pada waktu ulangan atau ujian • Waktu belajar terbatas • Pelajar tidak mempunyai banyak waktu untuk mempraktikkan bahasa yang dipelajari • Bahasa pertama mempengaruhi proses belajar bahasa kedua • Umur kritis mempelajari bahasa kedua kadang-kadang telah lewat sehingga proses belajar bahasa kedua berlangsung lama • Disediakan alat bantu belajar • Ada orang yang mengkomunikasikannya, yaitu guru dan sekolah. DAFTAR PUSTAKA Resmini, Novi,dkk. 2006. Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press. Darmiyat dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari .http://bahauddin amyasi.blogspot.com/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html/11/09/09/13.32/ Diakses dari. http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/psikologi-perkembangan-kognisi-dan-bahasa/11/09/09/13.33/ Diakses dari. http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/11/09/09/14.01/ Diakses dari. http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/10/09/09/17.05/ Diaksesdari.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=265/10/09/09/16.15/ Diakses dari. http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html/10/09/09/16.02/ Faisal dkk. (2009). Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. BAB II KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH A. SRUKTUR KURIKULUM DAN STANDAR KOMPETENSI MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA Secara garis besar Struktur kurikulum berisi : 1. Sejumlah mata pelajaran 2. Kegiatan belajar pembiasaan 3. Alokasi waktu Mata pelajaran merupakan seperangkat kompetensi dasar yang dibakukan dan substansi pelajaran mata pelajaran tertentu per satuan pendidkan dan per kelas selama masa persekolahan. Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa per kelas dan per satuan pendidikan sesuai dengan tingkatan pencapian hasil belajarnya. Mata pelajaran mengutamakan kegiatan instruksional yang berjadwal dan berstruktur. Yang dimaksud kegiatan belajar pembiasaan yaitu kegiatan yang mengutamakan pembentukan dan pengendalian yang diwujudkan dalam kegiatan rutin, spontan, dan pengenalan unsur-unsur penting kehidupan masyarakat. Alokasi waktu menunjukan satuan waktu yang digunakan untuk tatap muka. Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kompetensi dapat dikenali melalui hasil belajar dan indikatornya yang dapat diukur dan diamati. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. Kompetensi dikembangkan sejak taman kanak-kanak, kelas I SD sampai kelas XII yang menggambarkan satu rangkaian kemampuan yang bertahap, berkelanjutan, dan kensisten seiring dengan perkembangan psikologis peserta didik. Ruang lingkup standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD dan MI terdiri dari aspek : 1. Mendengarkan; seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa, lagu, pesan, penjelasan, laporan, ceramah, khotbah, pidato, pembicara narasumber, dialog atau percakapan, pengumuman, serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil-hasil sastra. 2. Berbicara; seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan; menyampaikan sambutan, dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri, teman, keluarga, masyarakat, benda, tanaman, binatang, pengalaman, gambar tunggal, gambar seri, kagiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh kesukaan/ketidaksukaan, kegemaran, peraturan, tata tertib, petunjuk, dan laporan serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan melisankan hasil-hasil sastra. 3. Membaca; seperti membaca huruf, suku kata, kalimat, paragraph, berbagai teks bacaan, denah; petunjuk, tata tertib, pengunguman, kamus, enslikopedia serta mengapresiasi dan berekpresi sastra melalui kegiatan membaca hasil-hasil sastra. 4. Menulis; seperti menulis karangan naratif dan nonnaratif dengan tulisan rapi dan jelas dengan memperlihatkan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan tanda baca, dan kosakata yang tepat dengan menggunakan kalimat majemuk dan kalimat tunggal serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan menulis hasil karya sastra berupa cerita dan puisi. B. HAKIKAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH 1. Teori Pembelajaran di Kelas Rendah Model pembelajaran yang diasumsikan cocok bagi murid kelas rendah (kelas I-II SD) adalah model-model pembelajaran yang lebih didasarkan pada interaksi sosial dan personal (Joyce dan Weil, 1992 dalam Hartati dkk, 2006:81) atau model-model interaksi dan transaksi (Brady, 1985 dalam Hartati dkk, 2006:81) daripada model-model yang didasarkan pada “behavioral” atau “ekspository”. Dari model-model pembelajaran tersebut dapat diidentifikasi berbagai prinsip pembelajaran sebagai berikut : 1. Libatkan Murid Supaya Aktif Belajar 2. Dasar pada perbedaan individual 3. Kaitkan antara teori dan praktik 4. Kembangkan komunikasi dan kerjasama dalam belajar 5. Beranikan anak dalam pengambilan resiko dan belajar dari kesalahan 6. Belajar sambil berbuat dan bermain 7. Sesuaikan pembelajaran dengan taraf perkembangan kognitif yang masih pada taraf operasi kongkrit.  Model Pembelajaran di Kelas Rendah a) Pertemuan kelompok (Partner-partner dalam belajar) Langkah-langkah pembelajaran 1. Murid menghadapi situasi “puzzling” (baik direncanakan atau tidak direncanakan) yang diidentifikasi oleh guru sebagai objek study. 2. Murid mengeksplorasi reaksi terhadap situasi itu 3. Merumuskan tugas dan mengorganisasikan pelaksanaannya 4. Mempelajari secara independent dan kelompok 5. Menganalisis kemajuan dan proses 6. Mengulangi lagi kegiatan 1-5 jika hasil analisis belum memadai b) Role Playing (Bermain Peran) Langkah-langkah 1. Mengidentifikasi atau memperkenalkan masalah, dam membuat masalah jadi jelas. Menginterpretasi latar belakang masalah dan isu-isu, menjelaskan prosedur pelaksanaan role playing. 2. Memilih partisipan Menganalisis peran-peran dan memilih bermain peran 3. Menetapkan tahapan Menetapkan alur laku (action), menyatakan kembali peran-peran, memasuki situasi masalah 4. Menyiapkan pengamat Menetapkan apa yang harus diamati, memberi tugas pengamatan pada murid. 5. Pelaksanaan Melaksanakan role playing, menjaga keberlangsungan pelaksanaannya dan menghentikannya. 6 Diskusi dan evaluasi Menelaah kembali pelaksanaan role playing, mendiskusikan fokus utama role playing, menyiapkan pelaksanaan ulang role playing 7. Pelaksanaan ulang Berganti peran (yang berlawanan) misalnya semula berperan sebagai anak sekarang berperan sebagai ibu. 8. Diskusi dan evaluasi (lihat langkah keenam) 9. Berbagi pengalaman dan generalisasi Menghubungkan masalah yang diperankan itu dengan pengalaman nyata dan masalah-masalah yang ada pada saat ini, kemudian menyimpulkan prinsip-prinsip umum tingkah laku. 1. Peranan Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah Guru merupakan kunci sentral untuk keberhasilan suatu pengajaran. Terlebih lagi apabila lingkungan tempat pembelajaran kurang menguntungkan, peran guru sangat berarti bagi siswa karena penentu keberhasilan suatu pengajaran sangat dipengaruhi oleh lingkungan, orang tua dan sekolah. Kedudukan guru sebagai komponen pengajaran di samping siswa, kurikulum, metode, alat pelajaran, dan alat evaluasi merupakan penentu keberhasilan. Dengan demikian guru berperan sebagai pembimbing, model, innovator, adminisator dan evaluator. Terlebih lagi dalam pelajaran Bahasa Indonesia. 2. Pendekatan Mengajar Beberapa pendekatan yang masih dominant digunakan dalam pembelajaran bahasa, antara lain : pendekatan komunikatif, pendekatan CBSA, Pendekatan intregatif dan tematik. a) Pendekatan Komunikatif Yang dimaksudkan dengan komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang mengutamakan kemampuan penggunaan bahasa dala konteks komunikasi. Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut : a. Pragmatik, struktur dan kosakata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang berdiri sendiri karena kosakata, pragmatic dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut. b. Pembelajaran bahasa untuk melatih kepekaan siswa maksudnya, siswa tidak hanya diinformasikan secara lugas atau langsung tetapi juga harus mampu memahami imformasi yang disampaikan secara tersirat. c. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, bernalar, dan memperluas wawasan juga mengembangkan kemampuan menghayati keindahan karya sastra, misal membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama. d. Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk membekali siswa menguasai bahasa lisan dan tulis, misalnya mengungkapkan informasi secara lisan maupun tulis. b) Pendekatan Cara Siswa Belajar Aktif (CBSA) Yang dimaksud dengan CBSA adalah cara belajara yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental. Yang perlu dipahami dalam melaksanakan CBSA antara lain adalah anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. c) Pendekatan Integratif dan Tematik Yang dimaksud dengan pendekatan intregatif adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak terpotong-potong dan bersumber pada satu tema. Maksudnya keempat aspek pengajaran bahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis serta kebahasaan yang disampaikan kepada siswa dipadukan secara intregative, misalnya dengan menggunakan tema “Kesehatan”, keempat aspek kebahasaan bersumber pada kesatuan tema kesehatan. C. MATERI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Berdasarkan kurikulum 2004 (KBK) materi pembelajarn Bahasa Indonesia di kelas rendah terdiri dari : keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis), kebahasaan (tatabunyi, tatabentuk, tatamakna dan tatakalimat), sastra (puisi, prosa, dan drama). Secara rinci materi pembelajaran diklasifikasikan dibawah ini : Materi Pembelajaran Kelas I Sekolah Dasar Mendengarkan Berbicara Membaca Menulis  Pengucapan bunyi atau suara tertentu di sekitar  Pelafalan bunyi bahasa  Tanggapan sesama nonverbal terhadap informasi yang didengarkan  Teks yang terdiri atas berbagai kalimat perintah (kalimat imperative)  Dekripsi tentang benda-benda disekitar  Kalimat berita (kalimat deklaratif) Dongeng  Kalimat sederhana untuk memperkenalkan diri  Kalimat sapaan  Gambar dan gambar seri  Nama warna, nama&fungsi anggota tubuh & benda-benda disekitar  Cerita pengalaman yang berkaitan dengan perjalanan dari rumah ke sekolah  Deskripsi benda-benda disekitar, kalimat berita (deklaratif)  Informasi tentang diri sendiri (minat, keinginan, cita-cita.dsb.  Kalimat yang mengucapkan kesukaan atau ketidaksukaan  Gambar tunggal  Gambar seri  Gambar dalam buku  Suku kata  Kata  Label  Angka arab  Kalimat sederhana  Teks sastra dan nonsastra  Paragraph pendek berisi kalimat sederhana (5-8 kalimat)  Garis putus-putus  Garis lurus  Garis lengkung  Lingkaran  Bentuk huruf  Huruf  Kata  Kalimat  Angka arab  Kalimat atau beberapa kalimat  Penulisan huruf, kata dan kalimat  Label nama  Gambar sederhana  Pengisian kalimat rumpang berdasarkan gambar  Identitas diri, nama, alamat  Kalimat sederhana dengan huruf sambung (3-5 kalimat) DAFTAR PUSTAKA Darmiyat dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari .http://bahauddin amyasi.blogspot.com/2008/11/perkembangan-bahasa-anak.html/11/09/09/13.32/ Diakses dari. http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/psikologi-perkembangan-kognisi-dan-bahasa/11/09/09/13.33/ Diakses dari. http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/pemerolehan-bahasa-pertama-dan-bahasa-kedua/11/09/09/14.01/ Diakses dari. http://nahulinguistik.wordpress.com/2009/04/14/pemerolehan-bahasa-pertama/10/09/09/17.05/ Diaksesdari.http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=265/10/09/09/16.15/ Diakses dari. http://toyo-utoy.blogspot.com/2009/05/kognitif-anak-usia-dini.html/10/09/09/16.02/ Faisal dkk. (2009). Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud. Resmini, Novi,dkk. 2006. Kapita Selekta Bahasa Indonesia. Bandung: UPI Press BAB III A. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA . Anthoni (1963:63-70) dalam Tarigan dkk. (2006:3.7) pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan pembelajaran bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatik. Metode merupakan rencana keseluruhan penyajian bahan bahasa secara rapi, tertib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang berkontradiksi dan kesemuanya didasarkan pada pendekatan terpilih. Metode bersifat prosedural. 1. Gambar Edward M. Anthoni Teknik adalah cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai teknik pembelajaran. Bungkus dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran tersebut dinamakan model pembelajaran. (Dr.Suyatno : 2008 http://hoesnaeni.wordpress.com/2009/01/24/beda-strategi-model-pendekatan-metode-dan-teknik-pembelajaran/ ) 2. Gambar Kaitan metode, pendekatan, desain, dan prosedur. Richards dan Rodgers (1986) dalam Tarigan dkk. (2006:3.7) menyempur-nakan pendapat Anthoni tersebut mereka menambahkan peranan guru, siswa, bahan, tujuan, silabus dan tipe kegiatan pembelajaran dan pengajaran pada segi metode, sehingga muncul istilah desain atau rancang-bangun. Istilah teknik diganti dengan istilah prosedur. Kaitan antara metode, pendekatan, desain dan prosedur dapat digambar seperti gambar diatas. Pendekatan adalah asumsi bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan proses belajar mengajar bahasa. Tarigan dkk. (2006) mengatakan pendekatan yang digunakan dalam pengajaran bahasa Indonesia adalah pendekatan tujuan, pendekatan komunikasi, pendekatan pragmatik, pendekatan CBSA, pendekatan ketrampilan proses, pendekatan spiral dan pendekatan lintas materi. Menurut Tatat Hartati dkk. pendekatan merupakan seperangkat asumsi yang aksiomatik tentang hakikat bahasa, asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi menganggap bahasa sebagai kebiasaan, bahasa sebagai sistem komunikasi dan ada pula yang menganggap bahasa sebagai seperangkat peraturan dalam kaidah. Di bawah ini akan dibahas beberapa pendekatan yang selayaknya dipahami oleh guru-guru sekolah dasar, baik guru kelas maupun guru bidang studi. 1. Pendekatan Behaviorisme Pendekatan ini berpandangan bahwa proses penguasaan kemampuan anak sebenarnya dikendalikan dari luar sebagai akibat dari berbagai rangsangan yang diterapkan lingkungan kepada anak. 2. Pendekatan Nativisme Pendekatan ini berpandangan bahwa anak sudah dibekali secara ilmiah dengan apa yang disebut LAD (language acquisition device). 3. Pendekatan Kognitif Bahasa dalam pandangan kognitif distrukturlisasi dan dikendalikan oleh nalar. Dengan demikian kognitif sangat berpengaruh pada perkembangn bahasa. 4. Pendekatan Interaksi Social Inti pembelajaran dari interaksi sosial adalah pengaruh lingkungan dari proses interaksi, oleh karena itu siswa dituntut untuk mencari pertanyaan atau mencari masalah sendiri dan berusaha menyelesaikan masalah sendiri. Hal ini akan meningkatkan kreativitas dan berfikir kritis mereka. 5. Pendekatan Tujuan Pendekatan ini sering dikaitkan dengan cara belajar tuntas artinya jika suatu proses pembelajaran tuntas berarti kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil dengan ketentuan sedikit-sediktnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu minimal menguasi 75% dari bahan ajar yang diberikan guru. 6. Pendekatan Struktural Pendekatan ini berpandangan bahwa bahasa adalah data yang didengar atau ditulis untuk dianalisis sesuai dengan tata bahasa. 7. Pendekatan Komunikatif Pendekatan ini didasarkan pada pandangan bahwa bahasa adalah sarana komunikasi, karena itu tujuan utama pengajaran bahasa adalah meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. 8. Pendekatan Pragmatik Pendekatan ini mengutamakan keterampilan berbahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu berbahasa, seperti: pemeran serta, tujuan, situasi, konteks juga aspek pengembangan seperti: moral, sosial, dan intelektual. 9. Pendekatan Whole Language Pendekatan ini berfungsi untuk mengembangkan dan mengajarkan bahasa yang dilaksanakan secara menyeluruh yang meliputi: a. mendengarkan b. berbicara b. membaca c. menulis Disamping itu pendekatan ini juga mementingkan multimedia, lingkungan dan pengalaman belajar anak. 10. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning Atau CTL) Pendekatan ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, serta bagaimana mencapainya. 11. Pendekatan Terpadu Pendekatan ini dalam bahasa hampir sama dengan pendekatan “whole language”, yang pada dasarnya pembelajaran bahasa senantiasa harus terpadu, dan tak terpisahkan antara keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca dan menulis). Disamping itu untuk kelas-kelas rendah pendekatan ini menggunakan lintas bidang studi, yang artinya pembelajaran bahasa Indonesia dapat disatukan dengan mata pelajaran lain. 12. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) Pendekatan ini merupakan suatu system pembelajaran yang menekankan kadar keterlibatan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Misal dalam pembelajaran membaca permulaan dikelas satu, dapat dilakukan secara individual, kelompok dan klasikal. Kegiatan secara individual dapat membaca nyaring (bagi siswa yang sudah lancar membaca). 13. Pendekatan Keterampilan Proses Keterampilan proses dalam mata pelajaran bahasa Indonesia meliputi kegiatan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan. B. METODE DAN STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA Setelah para guru memahami pendekatan-pendekatan dalam program pengajaran bahasa, selanjutnya guru menentukan metode-metode apa yang akan diterapkannya dalam proses pembelajaran. Metode adalah rencana penyajian bahan secara menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan atau approach tertentu dalam Tatat Hartati dkk. (2006). Sedangkan Tarigan dkk. (2006) perbedaan pandangan mengenai teori belajar juga mewarnai perbedaan metode. Teori belajar merupakan landasan suatu metode yang berorientasi dua hal. Pertama, proses kognitif yakni proses yang terjadi dalam belajar suatu bahasa. Kedua, kondisi belajar yakni kondisi-kondisi yang mendukung berlangsungnya proses belajar bahasa berjalan baik. Metode pembentukan kebiasaan (habit formation) adalah metode yang berorientasi pada proses. Metode alamiah (natural method) berorientasi pada situasi di mana belajar itu terjadi dan kondisi belajar. Metode berfungsi sebagai jembatan penghubung antara teori dan praktik, antara pendekatan dan teknik. berikut ini adalah metode yang digunakan dalam Kurikulum 2004 maka langkah dilakukan setelah guru menetapkan kompetensi dasar beserta indikato -indikatornya. Beberapa metode ini digunakan secara terpisah maupun digabungkan dengan metode lain atau beberapa metode dalam pelaksanaannya. 1. Metode Langsung Metode ini menerapkan secara langsung semua aspek dalam bahasa yang diajarkan. Misalnya, dalam suatu pembelajaran pelajaran bahasa Indonesia didaerah bahasa pengantar dikelas adalah bahasa Indonesia tanpa diselingi bahasa daerah/bahasa ibu. 2. Metode Alamiah Metode ini berprinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuia dengan kebiasaan belajar bahasa yang sesungguhnya seperti yang dilalui anak-anak ketika belajar bahasa ibunya.proses alamiah sangat berpengaruh pada metode ini. 3. Metode Tatabahasa Metode ini memusatkan pada pembelajaran vokabulerr (kosakata), kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaannya dan sangat mudah dalam pelaksanaannya. 4. Metode Terjemahan Metode terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan dalam pengajaran bahasa asing, termasuk alam pengajaran bahasa Indonesia yang umumnya merupakan bahasa kedua setelah bahasa penggunaan bahasa ibu/daerah. 5. Metode Pembatasan Bahasa Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan, kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya dimasyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa. 6. Metode Linguistik Prinsip metode ini adalah pendekatan ilmiah karena yang menjadi landasan pembelajaran adalah hasil dari penelitian para linguis (ahli bahasa). Urutan penyajian bahan pembelajaran disusun sesuai tahap-tahap kesukaran yang mungkin dialami siswa. Dengan demikian pada metode ini tidak dilarang menggunakan bahasa ibu murid, karena bahasa ibu murid akan memperkuat pemahaman bahasa tersebut. 7. Metode SAS Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) bersumber pada ilmu jiwa yang berpandangan bahwa pengamatan dan penglihatan pertama manusia adalah global atau bersifat menyeluruh. Dengan demikian segala sesuatu yang diperkenalkan pada murid haruslah mulai ditunjukan dan diperkenalkan struktur totalitasnya atau secara global. 8. Metode Bibahasa Metode ini hampir sama dengan metode linguistik, bahasa ibu murid digunakan untuk menerangkan perbedaan–perbedaan fonetik, kosakata, struktur kalimat dan tata bahasa kedua bahasa itu. 9. Metode Unit Metode ini berdasarkan pada 5 tahap, yaitu: a. mempersiapkan murid untuk menerima pengajaran b. penyajian bahan c. bimbingan melalui proses induksi d. generalisai dan penggunaannya di sekolah dasar Perencanaan atau disebut desain yang disusun di depan kelas. Ada tiga tahapan kegiatan teknik di depan kelas. Pertama, kegiatan penyajian dan penjelasan bahan pembelajaran. Kedua, kegiatan latihan yang dilaksanakan oleh siswa dalam rangka memahami bahan pembelajaran. Ketiga, kegiatan umpan balik untuk menentukan arah kegiatan belajar berikutnya sekaligus merupakan pengulangan atau lanjutan kegiatan belajar berikutnya. Setelah memahami metode pembelajaran bahasa guru juga harus mengetahui teknik-teknik atau strategi pengajaran yang lazim digunakan. Teknik bersifat prosedural. Teknik yang baik dijabarkan metode dan serasi dengan pendekatan. Berikut sejumlah teknik pengajaran bahasa Indonesia yang biasa dipraktikan guru bahasa Indonesia. 1. Teknik Ceramah Pelaksanaan teknik ceramah dikelas rendah dapat berbentuk cerita kenyataan, dongeng atau informasi tentang ilmu pengetahuan. 2. Teknik Tanya Jawab Teknik tanya jawab dapat diterapkan pada latihan keterampialn menyimak, membaca, berbicara dan menulis. Selain guru bertanya pada murid, murid juga dapat bertanya pada guru. 3. Teknik Diskusi Kelompok Teknik ini dapat dilakukan di kelas rendah dengan bimbingan guru. Peran guru terutama dalam pemilihan bahan diskusi, pemilihan ketua kelompok dan memotivasi siswa lainnya agar mau berbicara atau bertanya. 4. Teknik Pemberian Tugas Teknik ini bertujuan agar siswa lebih aktif dalam mendalami pelajaran dan memiliki keterampilan tertentu, untuk siswa kelas rendah tugas individual seperti membuat catatan kegiatan harian atau disuruh menghapal puisi atau lagu. 5. Teknik Bermain Peran Teknik ini bertujuan agar siswa menghayati kejadian atau peran seseorang dalam hubungan sosialnya. Dalam bermain peran siswa dapat mencoba menempatkan diri sebagai tokoh atau pribadi tertentu, misal: sebagai guru, sopir, dokter, pedagang, hewan, dan tumbuhan. Setelah itu diharapkan siswa dapat menghargai jasa dan peranan orang lain, alam dalam kehidupannya. 6. Teknik Karya Wisata Teknik ini dilaksanakan dengan cara membawa langsung siswa kepada obyek yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Misalkan : museum, kebun binatang, tempat pameran atau tempat karya wisata lainnya. 7. Teknik Sinektik Strategi pengajaran sinektik merupakan susatu strategi untuk menjadikan suatau masyarakat intelektual yang menyediakan berbagai siswa untuk bertindak kreatif dan menjelajahi gagasan-gagasan baru dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan alam, teknologi, bahasa dan seni. C. MODEL PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MENYELURUH (WHOLE LANGUAGE) DAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU A. MODEL PEMBELAJARAN BAHASA MENYELURUH 1. Teori pembelajaran bahasa menyeluruh Konsep bahasa menyeluruh telah diperkenalkan oleh Jerome Harrte dan Carolyn Burke pada tahun 1977, sesudah itu Doroty Waston menyusul dengan istilah ”Teacher Whole Languge” (TWL) pada tahun 1978 kemudian Ken Goodman memperkenalkan kaidah ini dengan nama ”Whole Language Comperhension Centered Reading Program” pada tahun 1979. Konsep bahasa menyeluruh telah digunakan pada anak usia dini (anak usia pra sekolah dan SD kelas rendah) dalam pengembangan bahasa anak. Kaidah ini ternyata telah berhasil dan membantu anak-anak memahami bahasa secara menyeluruh. Menurut Ferguson (dalam pendidikan bahasa dan sastra di kelas rendah, 2006:119) bahwa kaidah bahasa menyeluruh sangat penting untuk meningkatkan keterampilan mendengar, berbicara, membaca dan menulis diawali dengan pembelajaran perilaku bahasa yang alamiah yaitu bercakap-cakap. Sedangkan menurut Cullinan (dalam pendidikan bahasa dan sastra dikelas rendah, 2006:119) mengidentifikasikan bahwa kaidah ini berpusat pada bacaan atau program gabungan seni bahasa yang bermakna dan berfungsi. Bergeron dalam (pendidikan bahasa dan sastra di kelas rendah, 2006:119) mengidentifikasikan bahasa menyeluruh sebagai suatu konsep terdiri dari 2 unsur pendukung yaitu perkembangan bahasa dan pendekatan pengajaran. 2. Materi pembelajaran Model pembelajaran bahasa menyeluruh, sangat tepat digunaan dalam belajar bahasa indonesia di kelas rendah (I, II), oleh karena itu, sebelum guru merancang pembelajaran, sebaiknya memahami dan menganalisis terlebih dahulu materi pokok bahasa di kelas rendah tersebut. 3. Desain pembelajaran Whole Language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang secara utuh (menyeluruh). Melalui pendekatan ini pembelajaran dilaksanakan secara konstektual, logis, kronologis, dan komunikatif. Dalam pendekatan ini terjadi hubungan interaktif antara 4 ketrampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Rancangan atau desain model pembelajaran sebagai berikut : a. Persiapan : tema, kebahasaan, KD, hasil belajar, indikator, materi pokok, media, organisasi pembelajaran, evaluasi. b. Pembelajaran : diskusi tema, organisasi dan presentasi c. Pembelajaran : presentasi dan evaluasi B. MODEL PEMBELAJARAN TERPADU Salah satu karakteristik pengajaran bahasa Indonesia berdasarkan Kurikulum 2004 adalah keterpaduan. Keterpaduan itu dapat dilihat tujuan, bahan dan kegiatan belajar. Tujuan pengajaran pengajaran bahasa Indonesia adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi Tarigan dkk. (2006). Pembelajaran kebahasaan, penggunaan, pemahaman, dan apresiasi melalui bahasa lisan dan tulisan harus diarahkan untuk menumbuhkan kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar. Pembelajaran terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang membawa pada kondisi pembelajaran yang relevan dan bermakna untuk anak. Pembalajaran terpadu merupakan media pembelajaran yang secara efektif membantu anak untuk belajar secara terpadu dalam mencari hubungan-hubungan dan keterkaitan antara apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau informasi baru yang mereka temukan dalam proses belajarnya sehari-hari. Collins dan Dixon (1991:6) dalam (http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik dalam satu disiplin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak. Keterpaduan pembelajaran bahasa indonesia dengan mata pelajaran lainnya dapat berlangsung dalam beberapa bentuk : a. Model keterhubungan b. Model jaring laba-laba c. Model keterpaduan DAFTAR PUSTAKA Darmiyati dan Budiasih. (1996). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud. Diakses dari http://hoesnaeni.wordpress.com/2009/01/24/beda-strategi-model-pendekatan-metode-dan-teknik-pembelajaran/06/10/09/ 14.12 Diakses dari http://garduguru.blogspot.com/2008/03/beda-strategi-model-metode-dan-teknik.html/06/10/09/17:52:00 Diakses dari http://sobarnasblog.blogspot.com/2009/04/model-pembelajaran-terpadu-di-sekolah.html)/060/10/09/ Tatat Hartati, dkk. (2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Bandung : UPI PRESS Tarigan Djago, dkk. (2006). Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Universitas Terbuka
Chelsea FC